Pisang Nangka dan Kapas Langka di Pasar Singaparna, Pedagang Kesulitan Dapat Pasokan

Sejumlah pembeli tampak mendatangi lapak pedagang pisang di Pasar Singaparna yang biasa menjual pisang jenis kapas dan nangka. Kamis (12/03/26).

INILAHTASIK.COM | Sejumlah pedagang di Pasar Singaparna mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan pisang, khususnya jenis pisang nangka dan pisang kapas. Dalam beberapa hari terakhir, dua jenis pisang tersebut nyaris tidak tersedia di sejumlah kios penjualan buah.

Pantauan di area pasar menunjukkan beberapa lapak yang biasanya menjual pisang kini tidak lagi memiliki stok pisang nangka maupun pisang kapas. Kondisi ini sudah dirasakan para pedagang sejak sekitar satu pekan terakhir.

Yuyu, salah satu pedagang pisang di Pasar Singaparna, mengatakan pasokan dari bandar yang biasanya rutin mengirim kini terhenti. Akibatnya, para pedagang tidak memiliki barang untuk dijual kepada pembeli.

Menurutnya, kelangkaan ini terjadi justru saat permintaan masyarakat meningkat selama bulan Ramadan. Biasanya, kedua jenis pisang tersebut banyak diburu untuk berbagai olahan makanan.

“Kalau bulan puasa, permintaan memang tinggi. Apalagi mendekati Lebaran. Biasanya satu kuintal pisang nangka bisa habis dalam sehari,” ujarnya saat ditemui di kiosnya, Kamis 12 Maret 2026.

Pisang nangka menjadi salah satu bahan favorit untuk berbagai menu, seperti kolak, pisang rebus, hingga bahan baku keripik pisang. Kondisi langkanya pasokan membuat sebagian warga yang hendak membeli untuk kebutuhan usaha terpaksa pulang tanpa hasil.

Seorang pembeli yang datang ke kios tersebut mengaku telah berkeliling ke beberapa lapak pedagang namun tetap tidak menemukan pisang nangka. Ia berencana mengolahnya menjadi keripik, tetapi harus menunda karena bahan bakunya tidak tersedia.

Selain sulit didapat, harga pisang juga mengalami kenaikan meski tidak terlalu signifikan. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp 5.500 per kilogram, kini harganya naik menjadi sekitar Rp 7.000 per kilogram.

Yuyu menilai berkurangnya pasokan terjadi karena banyak pemilik pohon pisang yang memilih mengolah sendiri hasil panennya daripada menjual ke bandar. Hal itu membuat para pengepul yang biasanya mencari pisang ke kampung-kampung juga kesulitan mendapatkan barang.

Ia memperkirakan kondisi tersebut belum akan kembali normal dalam waktu dekat, terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri yang tinggal sekitar sepekan lagi.

“Kalaupun ada kiriman dari bandar, jumlahnya sangat sedikit, paling hanya 10 sampai 20 kilogram dan itu juga belum tentu ada setiap hari,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *