PMII Kota Tasik Tolak Rencana Kenaikan Harga BBM

Kenaikan BBM dinilai akan mengakibatkan bertambahnya orang miskin dan memburuknya situasi ekonomi akibat inflasi yang tidak terkendali.

PMII Kota Tasik Tolak Rencana Kenaikan Harga BBM

KOTA TASIK, INILAHTASIK.COM | Penolakan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kini muncul dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Tasikmalaya. Salah satunya Heru Muchtar,

Ia memaparkan bahwa di tahun 2022, Pemerintah terus mencari alternatif untuk keluar dari problematika bangsa yang begitu kompleks diakibatkan oleh Pandemi Covid-19, sehingga sangat jelas dan terang terangan pada perayaan HUT ke-77 RI, negara mengusung tema "Pulih lebih cepat bangkit lebih kuat".

Namun, katanya, hal itu hanya hiasan belaka lantaran faktanya bertolak belakang dengan realitas, yang seharusnya lebih serius menangani kondisi dan situasi kehidupan masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan.

“Hal itu malah diabaikan oleh Pemerintah yang diam-diam kembali melakukan manuver dengan kebijakan yang akan menimbulkan permasalahan baru di masyarakat,” tegasnya, Selasa 30 Agustus 2022.

Sementara, lanjut Heru, amanah negara menegaskan bahwa segala bentuk kebijakan yang dibuat harus bersandar pada kesejahteraan dan mengakomodir kepentingan rakyat secara utuh.

“Tapi, di akhir bulan Agustus ini kembali menguat menjadi perbincangan mengenai wacana pada tanggal 1 September 2022 pemerintah akan menaikan harga BBM subsidi dan non subisidi,” terangnya.

Baca Juga: Mobil Dihadang Mahasiswa, Wagub Jabar Tanggapi Demo Tolak BBM

Dari beberapa informasi yang ia dapatkan mengenai kenaikan BBM, diperkirakan akan naik di rentang Rp. 2.000 sampai Rp. 3.000 per liter. Pertalite saat ini Rp. 7.650 per liter dan solar Rp. 5.150 per liter.

Namun bukan hanya Pertalite dan Solar melainkan juga Pertamax akan mengalami kenaikan harga dari Rp. 12.500 per liter.

“Jika kenaikan BBM ini terjadi akan mengakibatkan bertambahnya orang miskin dan memburuknya situasi ekonomi akibat inflasi yang tidak terkendali. Seharusnya pemerintah fokus terlebih dahulu untuk memperhitungkan dampak tranmisi kenaikan BBM yang semakin meluas terhadap harga sejumlah barang kebutuhan primer dan skunder,” ungkap Heru.

Karena, menurutnya, ketika harga BBM naik maka secara otomatis biaya transportasi, biaya produksi, biaya bahan baku dan yang lainnya akan melonjak tinggi. Selain itu, pajak dan bunga pinjaman pun belakangan ini sudah mengalami kenaikan lebih awal.

“Maka jelas, kami dari PMII Cabang Kota Tasikmalaya dengan tegas menolak atas rencana pemeritah yang akan menaikan harga BBM subsidi. Karena kebijakan tersebut akat memberikan dampak buruk terhadap masyarakat menengah ke bawah, dan yang lebih parahnya akan memicu krisis multidimensi yang tidak terkendali,” tandasnya.