INILAHTASK.COM | Aksi protes terhadap pembangunan lapangan padel di Jalan Ir. Juanda kian memanas. Komunitas Rakyat Peduli Lingkungan Tasikmalaya mendirikan tenda didepan gedung Balai Kota, dan mereka menjaga tenda setiap malam selama bulan suci Ramadhan sebagai bentuk perlawanan moral atas dugaan penyerobotan lahan negara berupa eks sungai.
Langkah itu ditegaskan langsung oleh Ajengan Habibudin, aktivis Eksponen 96, yang menyebut perjuangan tersebut bukan sekadar protes biasa, melainkan panggilan nurani.
“Kami akan jaga tenda ini tiap malam, sahur on the road bersama. Ramadhan adalah momentum untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Kami meyakini pembangunan lapangan padel di Jalan Ir. Juanda milik saudagar kaya ini adalah kemungkaran, karena diduga menyerobot lahan negara, yakni eks sungai,” tegas Habibudin kepada wartawan, Senin malam, 23 Februari 2026.
Ia mengutip adagium hukum klasik, “Fiat Justitia Ruat Caelum. Tegakkan Keadilan Walau Langit Runtuh” sebagai landasan moral gerakan mereka. Menurutnya, keberanian bersuara di bulan Ramadhan justru menjadi simbol bahwa nilai-nilai keadilan tidak boleh tunduk pada kepentingan ekonomi atau kekuasaan.
Habibudin bahkan mengaitkan gerakan ini dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. “Bangsa ini diproklamasikan oleh Bung Karno pada bulan suci Ramadhan. Jadi tidak ada alasan bagi kami untuk diam melihat kemungkaran di depan mata,” ujarnya.
Bagi Komunitas Rakyat Peduli Lingkungan, aksi ini bukan semata soal satu proyek olahraga, melainkan soal keberanian warga menjaga kebenaran. Ramadan, bagi mereka, bukan alasan untuk diam, melainkan saat yang tepat untuk memastikan kebenaran tetap berdiri, meski harus berhadapan dengan risiko.











