INILAHTASIK.COM | Menjadi mahasiswa di UPI Kampus Tasikmalaya sering kali dihadapkan pada pilihan sulit: fokus akademik, aktif berorganisasi, atau mulai merintis kemandirian ekonomi melalui bisnis.
Namun, apakah ketiganya harus saling mengeliminasi? Ataukah ketiganya bisa menjadi satu kesatuan “Segitiga Emas” yang membentuk karakter mahasiswa yang tangguh?
Bagi sebagian orang, kuliah adalah prioritas tunggal. Duduk rapi, menyimak dosen, dan mengejar IPK cumlaude adalah bentuk bakti pada orang tua. Memang benar, menuntut ilmu adalah kewajiban yang sakral.
Sebagaimana hadits riwayat Ibnu Majah, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” IPK adalah pintu, amanah intelektual yang harus dijaga sebagai bentuk profesionalisme diri.
Namun, ilmu tanpa implementasi sosial akan terasa hambar. Di sinilah Organisasi (LINTAR) hadir sebagai laboratorium kepemimpinan.
Di Departemen Sosial Edukasi, saya belajar bahwa kecerdasan otak harus diimbangi dengan kecerdasan sosial. Organisasi melatih soft skill yang tidak diajarkan di buku teks: manajemen konflik, problem solving, dan cara berkolaborasi. Ilmu menjadi “pohon yang berbuah” ketika kita mulai peduli pada lingkungan sekitar.
Lalu, bagaimana dengan Bisnis? Merintis usaha di bangku kuliah bukan sekadar soal mencari materi, melainkan melatih mental kemandirian dan keberanian mengambil risiko.
Bisnis mengajarkan kita tentang realitas ekonomi dan disiplin waktu yang sangat ketat. Menjadi mahasiswa yang berdikari secara finansial adalah langkah nyata menjemput takdir sebagai “Khalifah yang berdampak” secara ekonomi bagi diri sendiri dan orang lain.
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik; beliau adalah seorang pencari ilmu, pemimpin umat (organisatoris), sekaligus pebisnis yang jujur. Maka, mengolaborasikan kuliah, organisasi, dan bisnis adalah ikhtiar untuk menjadi mahasiswa yang Syamil (utuh).
Memang melelahkan, tapi di situlah letak seninya. Kuliah memberi kita teori, organisasi memberi kita relasi dan hati, dan bisnis memberi kita kemandirian aksi. Ketiganya bukanlah beban, melainkan tiga sayap yang akan membawa kita terbang lebih tinggi setelah meninggalkan kampus tercinta ini.

Oleh: Maesun Mia Nur Amalia
Mahasiswi UPI Kampus Tasikmalaya – Prodi PGPAUD
Staf Departemen Sosial Edukasi LINTAR











