Entah bagaimana, aku tiba-tiba berada di markas Al-Muntab—organisasi yang mengaku suci, bersih, steril dari aroma bid’ah, apalagi konser musrik. Di sana, sang Ketua duduk di atas kursi empuk warisan ketokohan, tertawa lepas seperti baru saja menang undian umrah berkedok dakwah.
“Alhamdulillah! Konser musrik itu gagal total!” katanya sambil menepuk-nepuk meja rapat dengan semangat jihad konten.
Aku hanya diam. Takjub. Kagum. Mual.
Di dinding belakangnya, tergantung besar foto-foto saat dia memimpin sweeping spanduk, mengintimidasi panitia konser sambil sesekali live di Instagram: “Astaghfirullah, ini panggung maksiat!”.
Tapi itu baru pembukaan.
Sesi rapat internal dimulai. Para anggota Al-Muntab duduk melingkar. Di hadapan mereka, daftar pengeluaran bulan ini: cetak poster, sewa truk orasi, amplop koordinasi, dan… oh ya, total kerugian karena batalnya konser: 35 juta rupiah.
Suasana mendadak hening.
“Kalau terus-terusan gagal, dana kita bisa kering!” seru salah satu anggota. “Dakwah butuh logistik, Pak Ketua!”
Ketua mengangguk, lalu tersenyum, kali ini lebih licik dari sebelumnya. Ia berdiri dan berkata dengan suara penuh karisma manipulatif, “Tenang… Kita bikin rencana baru. Kita minta salah satu organisasi underbow kita buat acara… tapi undang grup musik dari Israel!”
Semua terperangah.
“Grup dari ISRAEL, Ketua??!”
Ketua mengangguk mantap. “Iya. Biar nanti kita bisa sikat habis! Kita demo, kita bakar panggungnya, kita viralkan. Dan rakyat? Rakyat pasti dukung kita. Nitizen? Langsung trending #TolakZionis!”
Salah satu anggota bertepuk tangan pelan. Lainnya menyusul. Tepuk tangan merambat menjadi sorak sorai. Entah kenapa aku merasa sedang duduk di ruang rapat para villain kartun Sabtu pagi.
“Strategi ini kita sebut: Jihad Simulatif,” lanjut ketua. “Yang penting, kelihatan marah. Biar umat percaya kita paling peduli. Dana bisa ngalir lagi. Bahkan bisa dapat sponsor dari lembaga-lembaga yang takut dituduh anti-Islam!”
Seorang anggota nyeletuk, “Tapi kalau ketahuan kita yang undang mereka duluan gimana?”
Ketua menjawab santai, “Ah, tinggal bilang itu hoaks. Fitnah liberal. Atau, kalau terdesak, tinggal nyalahin panitia. Kan umat juga nggak pernah baca tuntas berita.”
Rapat ditutup dengan doa bersama: semoga konser musrik tetap gagal, semoga konser zionis sukses dibuat agar bisa digagalkan, dan semoga rakyat tetap lupa bahwa mereka sedang ditipu pakai topeng iman.
Sementara aku keluar dari markas itu, aku cuma bisa mikir:
Kadang, iblis tak perlu merusak dari luar… cukup daftar jadi anggota rapat.



