INILAHTASIK.COM | Live Action Role Playing (LARP) tidak sekadar permainan peran dengan kostum dan senjata tiruan. Di balik setiap duel dan adegan pertempuran, terdapat aturan main yang dirancang untuk menjaga keselamatan sekaligus menjunjung sportivitas.
Anggota komunitas Lyssabel Larping Kota Tasikmalaya, Aldi, menjelaskan bahwa dalam LARP terdapat beberapa sistem permainan yang umum digunakan, di antaranya match point, endurance, dan battle royal. Masing-masing memiliki mekanisme dan tujuan yang berbeda.
“LARP itu tidak asal tebas. Semua ada aturannya. Sistem permainan disesuaikan dengan konsep latihan atau skenario yang kami mainkan,” ujar Aldi saat ditemui di sela latihan komunitas.
Sistem match point, kata Aldi, merupakan format yang paling mudah dipahami oleh pemula. Dalam sistem ini, setiap serangan yang mengenai area tubuh tertentu akan menghasilkan poin bagi penyerang.
“Biasanya sudah ditentukan, misalnya pukulan ke badan atau tangan bernilai satu poin. Siapa yang mencapai poin tertentu lebih dulu, dia yang menang,” kata Aldi.
Berbeda dengan match point, sistem endurance lebih menekankan ketahanan fisik dan konsistensi pemain. Dalam format ini, peserta harus bertahan selama mungkin dalam pertarungan dengan jumlah ‘nyawa’ atau hit tertentu.
“Kalau endurance, pemain tidak langsung kalah hanya karena satu serangan. Ada batas hit atau waktu. Jadi yang diuji bukan cuma teknik, tapi juga stamina,” ujarnya.
Sementara itu, battle royal menjadi format yang paling dinamis dan atraktif. Dalam sistem ini, banyak pemain bertarung secara bersamaan hingga tersisa satu orang atau satu tim sebagai pemenang.
“Battle royal biasanya ramai dan seru. Tapi tetap ada batasan, seperti area bertarung, larangan serangan berbahaya, dan pengawasan dari marshal,” jelas Aldi.
Selain sistem permainan, aspek penting lain dalam LARP adalah penggunaan senjata. Aldi menuturkan, senjata yang digunakan dalam LARP dirancang khusus agar aman dan tidak melukai pemain.
“Senjata LARP umumnya terbuat dari foam atau busa padat, dengan inti fiberglass atau bahan ringan lainnya. Bagian luarnya empuk supaya aman saat terkena tubuh,” kata Aldi.
Jenis senjata yang digunakan pun beragam, menyesuaikan karakter dan gaya bermain. Beberapa di antaranya adalah pedang satu tangan, pedang dua tangan, tombak, kapak, hingga perisai.
“Ada juga dagger atau belati untuk karakter tertentu. Tapi semua ukurannya sudah disesuaikan dengan standar keamanan,” ujarnya.
Aldi menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap sesi latihan maupun pertandingan. Oleh karena itu, komunitas Lyssabel Larping menerapkan aturan ketat terkait kekuatan serangan, area yang boleh diserang, serta penggunaan pelindung tubuh.
“Kami selalu ingatkan, ini olahraga dan seni peran, bukan untuk melukai. Jadi kontrol tenaga itu wajib,” kata Aldi.
Dengan aturan yang jelas dan peralatan yang aman, Aldi berharap LARP dapat dipahami sebagai aktivitas positif yang menggabungkan olahraga, strategi, dan kreativitas.
“Kalau orang sudah paham aturannya, mereka akan lihat LARP sebagai kegiatan yang seru, aman, dan bisa jadi wadah komunitas,” ujarnya.











