INILAHTASIK.COM | Pemerintah Kota Tasikmalaya terus mendorong terwujudnya kota yang maju dan berkelanjutan melalui program Tasik Resik. Program tersebut difokuskan pada penataan pengelolaan sampah serta optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari wajah kota.
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, S.T., MBA. mengatakan bahwa Tasik Resik bukan sekadar program kebersihan, melainkan gerakan bersama untuk membangun budaya hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat.
“Program Tasik Resik ini juga sejalan dengan program nasional Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Kami ingin Tasikmalaya menjadi kota yang tidak hanya religius, tetapi juga bersih dan nyaman,” ujar Viman.
Menurut dia, upaya tersebut memerlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan masyarakat dan dunia usaha.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya menjadi leading sector dalam pelaksanaan Tasik Resik.
Kepala DLH Kota Tasikmalaya, Sandi Lesmana, ST., M.Si., menjelaskan bahwa pada awal 2026 pihaknya mulai melakukan pembenahan dari kawasan strategis, yakni RTH Alun-alun Kota Tasikmalaya.
“Alun-alun merupakan wajah kota. Karena itu, kami melakukan pengecatan ulang dan penataan agar lebih rapi dan menarik. Ini menjadi langkah awal sebelum pembenahan RTH lainnya,” kata Sandi saat monitoring pengecatan alun-alun, Kamis 19 Februari 2026.
Ia menyebutkan, saat ini terdapat 28 RTH yang tersebar di Kota Tasikmalaya. DLH menargetkan perbaikan bertahap, termasuk pengecatan fasilitas dan penataan taman agar seluruh RTH tampil lebih representatif.
Dalam jangka panjang, DLH memprioritaskan penjagaan kualitas udara, air, dan lahan. Program persampahan menjadi fokus utama, mulai dari pengolahan hingga pemrosesan akhir sampah.
Untuk mendukung layanan kebersihan, Pemkot Tasikmalaya mengoperasikan 43 armada pengangkut sampah yang melayani 10 kecamatan. Sistem pelayanan dilakukan secara door to door, serta penyediaan kontainer roll-off atau dumpster di sejumlah titik strategis.
“Kami juga menggiatkan bank sampah dan gerakan pengolahan sampah organik. Kolaborasi dengan komunitas dan organisasi terus diperkuat untuk mendorong daur ulang,” ujarnya.
Ke depan, pihaknya membuka peluang kerja sama dengan pihak eksternal guna mengurangi volume sampah di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA), termasuk kemungkinan pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi.

Sandi menegaskan, keberhasilan Tasik Resik tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Ia mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran kolektif, dimulai dari rumah tangga.
“Minimal dengan memilah sampah dari rumah. Kalau semua bergerak, maka budaya bersih akan terbentuk dengan sendirinya,” kata dia.
DLH juga mendorong perusahaan daerah maupun swasta untuk menyalurkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dalam penataan RTH. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat revitalisasi ruang publik di berbagai titik kota.
Salah seorang warga Heriyanto, yang tengah berkunjung ke Alun-alun Kota Tasikmalaya mengapresiasi langkah pemerintah. Ia menilai kondisi alun-alun kini terlihat lebih bersih dan tertata.
“Sekarang lebih nyaman, enak dipandang, dan betah berlama-lama. Mudah-mudahan RTH lainnya juga terus dirawat seperti ini,” ujarnya.
Melalui Tasik Resik, Pemkot Tasikmalaya berharap identitas kota santri tidak hanya tercermin dari nilai religiusitasnya, tetapi juga dari lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.











