Opini  

Tasikmalaya dan Masa Depan Ruang Hidup Seni

INILAHTASIK.COM | Di banyak kota, kesenian bergerak seperti arus kecil: kadang deras, kadang melemah, lalu muncul kembali tanpa irama yang pasti. Tasikmalaya pun berada dalam pola yang sama—memiliki denyut kreatif, tetapi kerap tanpa arah yang jelas. Talenta ada, komunitas bekerja, imajinasi tumbuh, namun semuanya berputar tanpa peta. Pertanyaannya bukan lagi “ada seni atau tidak,” tetapi “bagaimana seni bisa hidup dan bertahan di kota ini?”

Menurut saya, jawabannya bukan sekadar festival, lomba, atau seremonial. Yang dibutuhkan Tasikmalaya adalah ekosistem—ruang hidup seni yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan. Seni bukan hiasan kota. Seni adalah organ: ia bernapas, menyimpan memori, dan membentuk peradaban.

Karena itu, saya mengusulkan gagasan Tasikmalaya sebagai Kota Ruang Hidup Seni.

Ruang hidup berarti menyediakan seluruh prasyarat bagi tumbuhnya kesenian: ruang belajar, ruang berlatih, ruang tampil, ruang riset, ruang dokumentasi, hingga ruang untuk mendapatkan pengakuan yang layak. Tasikmalaya memiliki bahan baku melimpah—tradisi, komunitas, energi muda, sejarah panjang teater, tari, rupa, sastra, hingga musik. Yang kurang hanyalah sistem.

1. Penyederhanaan Struktur: Dari Rumpun ke Komite

Perombakan struktur Dewan Kesenian menjadi kebutuhan mendesak.
Penyederhanaan rumpun menjadi enam komite—Teater, Tari, Sastra, Film, Musik, dan Seni Rupa—bukan perubahan kosmetik. Dengan komite, tiap bidang memiliki dapur gagasan, rumah kerja, dan tanggung jawab yang lebih fokus.

Kota-kota yang berhasil membangun kehidupan seni memiliki komite yang bekerja layaknya laboratorium: meneliti, menguji, merancang, dan mengevaluasi. Tasikmalaya perlu bergerak menuju model tersebut.

2. Peta Ekosistem Seni: Mengurangi Keacakan, Memperjelas Arah

Tak ada kebijakan seni yang berhasil tanpa data. Karena itu, Tasikmalaya membutuhkan pemetaan ekosistem seni: para seniman, komunitas, ruang pertunjukan, studio film, bengkel rupa, pustaka seni, ruang arsip, hingga kebutuhan teknis seperti sound system, lampu, dokumentasi, dan tenaga artistik.

Selama ini kita bekerja seperti menembak panah dalam gelap.
Dengan peta, kita melihat pola.
Dengan pola, kita menemukan arah.

3. Tasik Arts Data Bank

Saya mengusulkan basis data terbuka yang dapat diakses publik, sekolah, kampus, pemerintah, dan pelaku industri kreatif. Banyak kota tidak maju bukan karena kurang seniman, tetapi karena kurang informasi.
Data adalah infrastruktur kebudayaan.

4. Inkubator Seni: Dari Pemula ke Profesional

Banyak anak muda Tasikmalaya berbakat tetapi minim akses pengetahuan lanjutan. Inkubator seni menjadi jawabannya: program jangka panjang untuk melatih keterampilan menulis, dramaturgi, riset pertunjukan, manajemen seni, produksi film, literasi budaya, hingga pengelolaan komunitas.

Seni membutuhkan ruang tumbuh, bukan sekadar ruang tampil.

5. Pusat Studi Seni dan Budaya Tasikmalaya

Kita memiliki banyak karya, tetapi belum memiliki lembaga yang merawat ingatan. Pusat Studi ini akan menjadi rumah arsip: naskah, pertunjukan, foto, video, dokumen proses, hingga riset tentang seni dan tradisi lokal.
Arsip bukan sekadar catatan; ia adalah mesin waktu yang menjaga arah masa depan.

6. Seni di Ruang Publik

Seni harus kembali hadir di tengah kehidupan warga. Program seperti Seni Masuk Kampung, Pentas Ruang Publik, hingga konsep One Mile Gallery dapat menjadi jembatan antara seniman dan masyarakat. Seni tidak boleh hanya hidup di gedung pertunjukan; ia harus hadir di alun-alun, pasar, terminal, sekolah, gang kecil, dan kampung-kampung.

Ketika seni kembali ke ruang publik, kreativitas bukan lagi milik segelintir orang—ia menjadi milik kota.

7. Tasik Art Week: Perayaan Napas Kolektif

Di akhir setiap tahun, seluruh energi ini dapat bertemu dalam Tasik Art Week—pekan apresiasi yang menampilkan hasil residensi, riset, karya komite, forum diskusi, dan pertemuan antar-komunitas. Bukan festival seremonial, tetapi pameran pernapasan sebuah ekosistem.

Tasikmalaya bukan kekurangan gagasan. Yang kurang adalah keberanian memilih arah. Dan arah tidak lahir dari satu nama atau satu institusi; ia lahir dari kemauan kolektif untuk membangun masa depan budaya kota.

Saya menulis ini bukan sebagai calon ketua atau pemilik ambisi tertentu. Saya menulis sebagai pekerja seni yang percaya bahwa Tasikmalaya memiliki peluang besar menjadi pusat kreativitas yang berkarakter.

Seni yang sehat tidak hidup dari nostalgia, tetapi dari keberanian membayangkan masa depan. Dan masa depan itu akan tiba ketika Tasikmalaya menjadikan seni bukan sekadar tontonan, melainkan ruang hidup.

Semoga seluruh calon ketua diberi kelapangan hati, kejernihan pikiran, dan kekuatan visi untuk membawa kesenian Tasikmalaya menuju arah yang lebih maju. Sukses untuk prosesnya, dan semoga yang terpilih adalah yang terbaik bagi ekosistem seni kota kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *