Teknologi Panel Surya Pintar dan CoolRide, Inovasi Mahasiswa UMTAS di Forum Global

INILAHTASIK.COM | Sejumlah inovator muda Indonesia akan tampil dalam ajang internasional Youth Development for Climate Tech (YDCT) yang akan berlangsung pada 25–29 Maret 2026 di Singapura. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi bagi talenta muda dari berbagai negara, termasuk Singapura, Indonesia, dan India, untuk merancang solusi teknologi dalam menghadapi persoalan perubahan iklim.

Dalam forum tersebut, mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) turut ambil bagian dengan membawa berbagai gagasan inovatif berbasis teknologi. Program yang digagas oleh PT Sustainable Living Lab ini mendorong generasi muda berperan aktif sebagai pengembang teknologi yang berfokus pada isu lingkungan.

Para peserta didorong memanfaatkan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta Internet of Things (IoT) untuk merancang prototipe inovasi yang dapat diterapkan secara nyata dan berkelanjutan.

Salah satu perwakilan dari Indonesia adalah Ipan Aulia Rahman, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin UMTAS. Ia memperkenalkan inovasi bertajuk “Powering Solar with Intelligence”, yakni sistem panel surya berbasis IoT yang mampu memantau kondisi lingkungan dan kinerja pembangkit listrik secara langsung melalui platform digital.

Melalui sistem tersebut, berbagai parameter seperti intensitas cahaya matahari, suhu, hingga produksi energi dapat dipantau secara real-time. Teknologi ini juga memungkinkan deteksi gangguan lebih cepat sehingga pemanfaatan energi surya dapat berlangsung lebih optimal dan efisien.

Inovasi lainnya datang dari tim Thermal Optimizers yang diwakili oleh Mustafa Bilal, mahasiswa Pendidikan Teknologi Informasi UMTAS. Bersama timnya, Mustafa mengembangkan aplikasi bernama CoolRide, yaitu sistem navigasi pintar yang dirancang untuk membantu pejalan kaki dan pesepeda di wilayah beriklim tropis.

Aplikasi tersebut menawarkan rute perjalanan yang lebih nyaman dengan mempertimbangkan faktor keteduhan. Sistem ini menggunakan algoritma Multi-factor Dijkstra yang menggabungkan data ratusan ribu pohon serta informasi cuaca terkini untuk menentukan jalur yang meminimalkan paparan panas matahari.

Teknologi ini juga diperkuat dengan integrasi kecerdasan buatan berbasis Llama-3.1 yang memungkinkan pengolahan data secara lebih cerdas. Inovasi tersebut diharapkan dapat mendukung kesehatan masyarakat sekaligus mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan.

Melalui forum YDCT, para inovator muda diharapkan mampu memperkuat kolaborasi lintas negara dalam mengembangkan solusi teknologi yang relevan dengan tantangan perubahan iklim.

Ajang ini juga menjadi kesempatan bagi generasi muda Indonesia untuk menunjukkan kemampuan dan kontribusinya dalam menciptakan inovasi berkelanjutan di tingkat global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *