INILAHTASIK.COM | Ada tiga tahapan penting dalam Tasawuf (sufisme) untuk mencapai kesucian jiwa (Tazkiyatun Nafs) yang menjadi pondasi utama perjalanan ruhani para Salik (pejalan spiritual) untuk mencapai pada titik hakikat. Apa saja ketiga tahapan tersebut?
1. Takhalli yakni Mengosongkan, Membersihkan Ruang Batin dari segala Kegelapan
Takhalli (تخلي) berarti melepaskan, mengosongkan, membersihkan.
Ini adalah tahap pertama. Bagi para sufi tahap ini justru merupakan tahap yang paling berat, sebab ia menyentuh akar terdalam dari “Aku” yang palsu.
Hakikatnya:
Takhalli bukan sekadar meninggalkan dosa itu hanya kulitnya. Hakikatnya adalah mencabut seluruh pusat gravitasi ego dari dalam diri. Segala hal yang membuat batin menjadi berat harus ditanggalkan:
Keakuan (anaaniyyah)
Hasrat membenarkan diri
Rasa memiliki, ingin dipuji
Rasa paling benar
Luka batin yang disimpan
Ketersinggungan
Bayang-bayang masa lalu
Kelekatan pada keinginan dunia, hawa nafsu halus yang sering tidak terasa
Saat seseorang masuk tahap ini, jiwanya seperti ruang gelap yang mulai diberi angin segar. Kegelapan bukan musuh, tapi cermin yang memperlihatkan apa yang selama ini tersembunyi.
Rasa takut, gelisah, hampa, kadang muncul ini tanda ego mulai goyah.
Tanda-tanda Takhalli mulai hidup dalam diri:
Mudah tersentuh oleh kesalahan diri
Mulai melihat cacat batin yang dulu tak pernah tampak
Hati sering merasa “sesak” saat ego ingin berkuasa
Mulai mampu membiarkan sesuatu berlalu
Ada rasa ingin menjauh dari keramaian yang mengotori batin
Takhalli adalah kematian pertama. Kematian bukan pada tubuh, tetapi pada pola-pola lama yang mengikat.
2. Tahalli yakni Menghias, Menanam Cahaya Sifat-sifat Ilahi
Jika Takhalli adalah membersihkan ruang, maka Tahalli adalah mengisinya dengan wangi yang suci.
Tahalli (تحلي) berarti menghias diri dengan sifat-sifat Ilahi:
Sabar, Ikhlas, Tawadhu
Syukur, Ridha
Lembut, Kasih Sayang
Jujur, Amanah
Tenang, Lapang, Rendah Hati
Pada tahap ini, sifat-sifat baik tidak hanya dipraktekkan, tetapi diresapkan hingga menjadi watak. la bekerja dengan kontemplasi, dzikir, dan muraqabah (kesadaran hati di hadapan Allah).
Sifat-sifat Ilahi pelan-pelan menetes ke dalam hati. Hati yang tadinya keruh menjadi bening. Bening ini menjadi cermin, dan cermin itu mulai memantulkan Cahaya-Nya.
Pada Tahalli, seseorang mulai:
Memaafkan tanpa beban
Mencintai tanpa pamrih
Berbuat baik tanpa ingin dilihat
Mendengar bisikan lembut hati nurani
Merasakan keheningan batin yang menenteramkan
la mulai mengerti bahwa, setiap akhlak baik bukan miliknya, tetapi pancaran sifat Allah yang dititipkan kepadanya. Ini adalah fase ketika jiwa mulai dihiasi, dan keindahan batin mulai tumbuh.
3. Tajalli yakni Penyingkapan, dimana Cahaya Kebenaran Menampakkan Diri
Tahap ketiga adalah Tajalli (تجلي) yang berarti penyingkapan, ketampakan, manifestasi cahaya.
Jika Takhalli adalah kematian ego, dan Tahalli adalah kelahiran akhlak suci, maka Tajalli adalah hidupnya ruh dalam Cahaya Allah.
Apa yang tersingkap?
Bukan bentuk. Bukan suara.
Tajalli adalah terbukanya batin untuk menyaksikan:
Bahwa segala sesuatu adalah perbuatan Allah
Bahwa “aku” hanyalah bayang
Bahwa hati sebenarnya adalah cermin bagi Nur Ilahi
Bahwa setiap makhluk membawa rahasia kasih-Nya bahwa Allah lebih dekat dari dekat
Ruh merasakan:
Ketenangan yang tidak bergantung kondisi
Rasa hadir yang sangat jernih
Kefanaan ego (fana)
Kesadaran Ilahi yang lembut
Kesatuan rasa antara hamba dengan Kehendak-Nya
Tajalli bukan ekstase, bukan visual, bukan keajaiban.
Tajalli adalah rasa tersingkapnya kebenaran.
Pada titik ini, seseorang tidak lagi berjalan dengan dirinya sendiri.
la “dibimbing” oleh cahaya dari dalam.
Hati menjadi pelita. Pelita itu tidak padam meski badai datang.
Hubungan Tiga Tingkat Ini, Bayangkan seperti ruangan batin:
1. Takhalli engkau membersihkan ruangan dari sampah
2. Tahalli engkau mengisi ruangan dengan wangi dan cahaya
3. Tajalli jendela ruangan terbuka, cahaya langit masuk, dan semuanya menjadi terang.
Tanpa Takhalli, Tahalli hanyalah kepura-puraan.
Tanpa Tahalli, Tajalli tidak mungkin muncul.
Dan tanpa Tajalli, perjalanan ruhani belum sampai pada hakikatnya.











