Opini  

Tom & Lembong dan Tom & Jerry

INILAHTSAIK.COM | Di satu layar televisi, Tom dan Jerry terus berkejaran tanpa akhir. Tikus dan kucing itu tidak pernah benar-benar ingin saling memusnahkan. Kejar-kejaran mereka adalah siklus yang absurd tapi menghibur. Sebuah dramaturgi kekerasan yg dijahit dengan humor, penuh kejaran tapi tak pernah ada penyelesaian.

Di layar politik dan ekonomi Indonesia, ada  tokoh yg juga sedang dikejar-kejar. Namanya Tom  Lembong.

Tom yang ini bukan kucing, melainkan sebuah metafora simbol kekuasaan yang mencintai negara dengan caranya. Lembong, di sisi lain, bukanlah Jerry. Lelaki berlesung pipit,  yang tersenyum …

Sampai kemudian, sidang vonis dijatuhkan. Tom Lembong divonis 4,5 tahun penjara dalam perkara yang telah lama menjadi sorotan: impor gula. Hakim menyebut ia bersalah, tetapi tidak memperoleh keuntungan pribadi. Vonis jatuh, namun absurditas tetap menggantung. Apakah ini akhir episode, atau awal  dari cerita yang lebih panjang?

Seperti dalam kartun, Tom (Lembong) tampak dipojokkan oleh sistem yang tak memberinya ruang untuk menjelaskan narasi sendiri. Dalam putusan hakim, ada baris kalimat yg lebih menyerupai editorial ketimbang yurisprudensi: Tom mengedepankan ekonomi kapitalis, bukan Pancasila.

Kalimat itu terasa seperti penghakiman ideologi, bukan hukum. Seakan-akan dalam ruang sidang, filsafat ekonomi juga bisa dijadikan bukti memberatkan. Kita pun perlu bertanya: sejak kapan tafsir ideologis menjadi bahan pertimbangan hukum pidana?

Dunia yang kita tempati ini sering kali mirip kartun. Hukum menjadi panggung opera, aktornya tampil dengan naskah yang ditulis di balik layar, oleh tangan2 tak tampak. Seperti kata Nietzsche, kebenaran bukanlah fakta, melainkan kesepakatan sosial dan dalam dunia kita, kesepakatan itu sering berubah tergantung angin kekuasaan.

Kita hidup dalam apa yg Camus sebut sebagai absurditas kehendak untuk mencari makna dalam dunia yang menolak memberi makna. Kita menginginkan keadilan, tapi hanya disuguhi pengadilan. Kita menginginkan logika, tapi hanya mendapat narasi.

Maka ktk Lembong berkata, “Saya tidak ambil sepeser pun,” yang kita dengar bukanlah pembelaan, tapi gema dari seorang tokoh yang sudah ditentukan nasibnya. Ia bukan lagi warga, melainkan karakter. Dan seperti Tom dalam animasi, ia harus jatuh agar penonton merasa puas. Bukan karena bersalah, tetapi karena perannya memang ditulis untuk kalah.

Smentara itu, kita, publik..duduk seperti biasa di kursi penonton. Menggerutu di linimasa, membuat meme, menggulirkan layar berita tanpa benar-benar menyimak. Kita menonton sidang seperti menonton tayangan ulang. Kita tahu plot-nya. Kita tahu akhirnya. Tapi tetap saja, kita ingin menonton lagi.

Barangkali itulah nasib kita sebagai bangsa: terus-menerus mengulang babak yang sama dengan aktor berbeda. Kejar-kejaran antara kuasa dan hukum, antara ideologi dan prosedur, antara kenyataan dan citra. Lalu kita tertawa, atau pura-pura tertawa, sebagaimana kita tertawa melihat Tom tergencet piano atau terlempar dari atap rumah.

Dalam dunia yang terlalu serius menonton kartun, kita lupa bahwa hidup bukan animasi. Ada luka yang nyata, ada nama yang hancur, dan ada kebenaran yang tak sempat ditegakkan karena sudah dijatuhi lebih dulu oleh ekspektasi publik.

Apakah Tom (Lembong) bersalah? Biarlah hukum yang bicara. Tapi ketika hukum mulai menyerupai lelucon, maka kritik tak lagi sekadar hak, melainkan kewajiban.

Karena seperti Tom dan Jerry, kita tahu: mereka tidak akan pernah benar-benar berdamai. Tapi toh, kita tetap menonton. Episode demi episode, tanpa jeda. Barangkali kita bukan lagi penonton, melainkan figuran dalam kartun yang tak kita sadari tengah menertawakan diri kita sendiri.

Ab Asmarandana, penonton Tom and Jerry..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *