Inilah Urgensi di Balik Pontren Ekologi bagi Peserta Didik di SMK Nurussalam Salopa

Kegiatan Pesantren Ekologi di SMK Nurussalam, Salopa, Kabupaten Tasikmalaya. | dok

INILAHTASIK.COM | Merujuk pada surat bernomor: 20915/KPG.03.04/SEKRE yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Purwanto, M.Pd. tentang Pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan selama Bulan Suci Ramadan 1447 H/2026 M, dengan fokus pada penguatan pendidikan karakter yang mengintegrasikan program Pesantren Ekologi dan nilai-nilai Gapura Pancawaluya di sekolah (misalnya SD, SMP, SMA, SMK).

Pesantren Ekologi Ramadan menjadi wahana penguatan iman–takwa, akhlak, dan kepedulian lingkungan, selaras dengan Gapura Panca Waluya dan karakter pelajar Jawa Barat dari usia dasar hingga kejuruan berdasarkan perintah surat diatas sejumlah sekolah dari mulai SD SMP SMA hingga SMK di Jawa Barat mengelar methode pembelajaran pesantren ekologi di tempatnya masing-masing.

Selama 2 Minggu para siswa dibawah bimbingan para gurunya, mencoba untuk menerapkan, konsep dasar dalam berprilaku sesuai ajaran agama islam yakni Benar dalam berpikir, bertindak, dan berlandaskan ilmu. Sehingga bisa meningmplementasikan, Kajian Islam dan Ekologi (khalifah fil ardh, larangan israf). literasi lingkungan: sampah, iklim, air.

Hal ini juga dilakukan oleh sejumlah siswa di SMK Nurusalam Salopa Kab Tasikmalaya, yang mengelar Pesntren ekologi dengan menambah methode pengajaran islam lainnya.

“Ya tentu kita mengikuti juklak juknisnya dari Dinas Pendidikan Provinsi Jabar, namun beberapa point kami tambahkan juga mengingat sekolah kami juga terintegasi dengan pondok pesantren terpadu milik Yayasan yakni Pontren Al furqon, jadi kami menambahkan kebiasaan baik anak-anak dalam menerapakan nilai luhur dan akhlaqul karimah dalam bentuk pemahaman dan penalaran alquran,“ ungkap Kepala sekola SMK Nurusalam, Dedi ZM, Jumat 27 Februari 2026.

Ia menambahkan bahwa pesantren ekologi di sekolahnya diharapkan bisa lebih meningkatkan kesadaran ekologis sejak dini, agar peserta didik memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan, membiasakan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, seperti hemat air dan energi, pengelolaan sampah, serta anti mubazir selama Ramadan, serta mengintegrasikan nilai agama, ilmu pengetahuan, dan aksi nyata sehingga pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi diwujudkan dalam praktik sosial dan lingkungan.

“Intinya peserta didik bisa membawa prilaku dan pembiasaan baik ini selamanya tak hanya di bulan suci Ramadhan ini, namun diawali di bulan Ramadan ini adalah sebagai momentum awal perubahan perilaku positif, dari ritual ke pembiasaan berkelanjutan pasca-Ramadan,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan pengawas Pembina SMK Nurussalam, Yadi Gunawiyadi, yang menegaskan bawa tujuan utama dari digelarnya pesantren ekologi ini tidak lain untuk mewujudkan internalisasi nilai gapura Pancawaluya dengan landasa Islam Yang Rahmatan lil alamin .

”Menumbuhkan keimanan dan ketakwaan peserta didik, melalui penguatan ibadah Ramadan yang terintegrasi dengan kesadaran menjaga alam sebagai amanah Tuhan. Sehingga terbentuk karakter pelajar berakhlak mulia dan peduli lingkungan, sesuai nilai Gapura Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer),“ terang Yadi.

Dalam pesantren Ramadhan Ekologi ini, sejumlah metode diberikan kepada para peserta didik, selain metode umum tentang pengkajian ayat suci alquran dan realisasinya dalam kehidupan juga siswa dididik untuk membiasakan sedeqah dan infaq yang termuat dalam isltilah “ POE IBU “ sapoe sarebu yang memiliki makna bahwa dalam setiap hari siswa memeberikan sedeqah, sebesar Rp.1000 yang dikumpulkan oleh panitia dan hasilnya diserahkan kepada masyarakt kurang mampu disekitar sekolah.

“Ya betul ada konsep POE Ibu, Tadabur alam yang dijiwai panca niti, Rantang kanyaah bagi Masyarakat dan aksi tasyakur yang nanti menutup rangkaian pontren ekologi ini disekolah masing masing “ pungkas Yadi. (dzf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *