INILAHTASIK.COM | Musim kemarau yang baru berlangsung sekitar dua bulan mulai memicu krisis air bersih di Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya. Ratusan warga dari Dusun Cipari dan Dusun Cipatat kini setiap hari mengandalkan pasokan air dari Masjid Jami Al Ihsan setelah sumur-sumur milik mereka mengering.
Sejak pagi, Minggu 28 Juni 2026, halaman masjid dipenuhi jeriken dan galon milik warga yang mengantre untuk mendapatkan air bersih. Masjid yang biasanya hanya menjadi tempat beribadah kini juga menjadi satu-satunya sumber air bagi ratusan keluarga.
Dedeh Rohayati, warga Dusun Cipari, mengatakan sumur di rumahnya sudah tidak lagi mengeluarkan air sejak akhir April lalu. Kondisi itu memaksa warga mengambil air ke masjid untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Air sumur sudah mulai kering dari akhir April. Dulu kedalaman tiga meter sudah keluar air, sekarang digali sampai 10 meter juga tidak ada. Jadi kami mengambil air ke masjid,” ujar Dedeh.
Hal serupa disampaikan Yayah. Menurutnya, sumber air yang dialirkan ke masjid menjadi harapan terakhir warga selama kemarau berlangsung.
“Sumur di rumah sudah kering. Sumber air dari gunung sekarang masuk ke masjid, jadi kami harus antre pagi dan sore untuk mengambil air,” katanya.
Ketua DKM Masjid Jami Al Ihsan, Uun Suhendar, mengaku pihaknya tetap membuka akses bagi warga meski penggunaan air masjid meningkat drastis. Namun, pengambilan air dihentikan sekitar 10 menit sebelum waktu azan agar persediaan air mencukupi untuk keperluan wudu para jemaah.
“Memang sebenarnya cukup mengganggu karena air untuk wudu juga terbatas. Tapi ini kebutuhan masyarakat, jadi kami izinkan. Hanya saja, 10 menit sebelum azan warga diminta berhenti mengambil air agar bisa digunakan untuk berwudu,” jelas Uun.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena tidak ada sumber air lain yang mudah dijangkau masyarakat tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
“Kami mengizinkan karena air merupakan kebutuhan dasar. Insya Allah aktivitas ibadah tetap bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, menyebut sekitar 600 hingga 700 kepala keluarga terdampak kekeringan yang melanda dua dusun. Setiap musim kemarau, wilayah Cipari dan Cipatat memang menjadi daerah yang paling rawan mengalami krisis air bersih.
“Ada dua dusun yang terdampak, yaitu Dusun Cipari dan Dusun Cipatat dengan sekitar 600 kepala keluarga. Satu-satunya sumber air dialirkan ke masjid sehingga warga harus mengantre, dan pengambilan air kami batasi agar semua kebagian,” ungkap Bunyamin.
Pemerintah desa, lanjutnya, telah mengajukan permohonan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya agar dilakukan pendistribusian air bersih melalui BPBD. Namun hingga akhir Juni, bantuan tersebut belum terealisasi.
Selain bantuan darurat, warga juga berharap ada solusi permanen untuk mengatasi persoalan kekeringan yang terus berulang setiap tahun.
“Musim kemarau masih panjang dan sumber air belum kembali mengalir. Kami berharap ada bantuan permanen, misalnya pembangunan sumur bor agar kebutuhan air masyarakat bisa terpenuhi setiap musim kemarau,” kata Bunyamin.
Untuk memastikan seluruh warga mendapat pasokan air, setiap keluarga dibatasi hanya boleh mengambil dua hingga tiga jeriken air per hari. Selama hujan belum turun, Masjid Jami Al Ihsan dipastikan masih akan menjadi tumpuan utama warga Desa Kertanegla dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.











