Nasib Pilu Bocah Gizi Buruk Asal Kota Tasikmalaya, Daftar ke SD Malah Disuruh Masuk SLB?

Malik (7), bersama kedua orangtuanya, saat diwawancara media di rumahnya, Jumat 03 Juli 2026.

INILAHTASIK.COM | Malik (7), bocah asal Kp. Sindanggalih Rt 03/12, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, harus mengalami nasib yang mamilukan. Hanya karena tidak atau belum bisa berjalan kaki lantaran diduga akibat kekurangan gizi, anak dari pasangan Nana Supriatna dan Ariana Kurniati terancam gagal sekolah.

Alih-alih ingin belajar di SDN Sindanggalih yang notebene merupakan sekolah terdekat dari tempat tinggal Malik, usai mendaftar ke sekolah tersebut, malah disarankan oleh Panitia Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk masuk ke Sekolah Luar Biasa (SLB).

Sontak, hal itu membuat ketersinggungan bagi kedua orangtua Malik karena merasa anaknya tidak termasuk anak berkebutuhan khusus, dan selama menempuh pembelajaran di tingkat Pendidikan Usia Dini (PAUD), kondisi Malik tampak biasa-biasa saja, berpikir dan berkomunikasi baik layaknya orang normal, malah sudah bisa membaca dan menulis.

Sang ibu, Ariana mengungkapkan, dirinya sudah menjelaskan sekaligus meyakinkan kepada pihak sekolah bahwa buah hatinya tidak mengalami kelainan, hanya belum bisa berjalan kaki. Namun, Panitia SPMB menyarankan Ariana agar menyekolahkan anaknya ke SLB dengan dalih kurangnya fasilitas di SDN Sindanggalih bagi siswa seperti Malik.

“Waktu dipanggil oleh pihak sekolah, sudah bicara ke guru agar bisa menerima anak saya, karena memang tidak punya kelainan. Bahkan sudah bisa membaca dan menulis. Tapi malah disarankan untuk sekolah ke SLB. Saya tidak terima Pak, saya nangis,” ungkap Ariana di rumahnya, Jumat 03 Juli 2026.

Disinggung soal kekurang gizi, ia mengakui bahwa hingga usia lima tahun anaknya dalam pemantauan tim Kesehatan, baik dari unsur pemerintah setempat maupun kader Posyandu di lingkungannya. Ariana tak memungkiri anaknya mengalami kekurangan gizi dan termasuk kategori Stunting, tapi bukan berarti punya kelainan dan berkebutuhan khusus.

“Kami pernah memeriksanya ke dokter, katanya cuma disuruh gemuk. Kalau stunting yaa mungkin saja. Tapi tidak ada kelainan,” jelas Ariana.

Kendati demikian, Nana dan Ariana sangat mengharapkan Malik bisa diterima dan bersekolah di SDN Sindanggalih. Meski hanya seorang buruh meubel, sang Ayah bakal terus berjuang untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Sementara, saat dikonfirmasi melalui saluran telepon, Kepala SDN Sindanggalih, Nana Hermawan membantah pihaknya telah menolak sang bocah dari pendaftaran murid baru di sekolahnya, karena pengumuman resmi penerimaan baru akan diumumkan pada tanggal 06 Juli 2026 atau Hari Senin besok.

“Jadi sebetulnya bagi anak siapa dan dari kalangan apa saja yang sudah layak mengikuti Pendidikan di jenjang SD, ada kewajiban untuk diterima. Dalam hal ini, kita perlu berpikir untuk masa depan anak. Jadi kami ingin terbuka dan melalui Panitia SPMB menyampaikan dulu mengenai kondisi ril sekolah untuk menjadi bahan pertimbangan, baik untuk anak yang rata-rata sama ataupun mempunyai kelainan agar tidak terjadi miskomunikasi di masa yang akan datang, bukan berarti penolakan, karena pengumuman diterima atau tidaknya nanti tanggal 6 Juli,” beber Nana.

Nana pun tidak menampik bahwa pihaknya telah menyarankan orangtua Malik untuk menyekolahkannya ke SLB dengan alasan agar sang anak mendapat pelayanan Pendidikan yang optimal.

“Hanya menyarankan Pak. Sebab, kalau di SD mengingat jumlah siswa di kami 30 (per kelas), takut ada apa-apa, sehingga perlu juga anak ini maksimal dilayaninya dengan juumlah guru yang sangat minimal, jadi terkondisikan semua kebutuhannya. Nah, pandangan dari guru dengan kondisi seperti ini (Malik), kalau di sekolah-sekolah inklusi jumlah siswanya lebih sedikit, jadi pelayanan itu lebih optimal dibandingkan dengan kami yang harus melayani sekian orang,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *