INILAHTASIK.COM | Malik (7), bocah asal Kp. Sindanggalih, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya yang sempat viral dan menuai keprihatinan banyak pihak lantaran sewaktu mendaftar ke sekolah dasar malah disarankan menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), kini resmi diterima di SDN Sindanggalih.
Kabar baik itu datang setelah jajaran pihak sekolah tersebut langsung mengunjungi kediaman Malik guna meluruskan persoalan yang terjadi. Para tenaga pendidik yang juga merupakan Panitia Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) menyampaikan permohonan maaf kepada orangtua Malik atas kegaduhan akibat kesalahpahaman tersebut.
Sementara Ayah Malik, Nana Supriatna, sangat menyambut positif itikad baik dari pihak sekolah. Ia mengaku sebelumnya merasa cemas karena kondisi fisik Malik yang masih belum bisa berjalan, hingga putranya itu disarankan untuk masuk SLB.
Namun, setelah dijalin komunikasi ulang, pihak sekolah pun menegaskan bahwa Malik memiliki hak yang sama untuk belajar di SDN Sindanggalih.
“Mereka datang ke rumah untuk minta maaf. Katanya ada miss komunikasi. Alhamdulillah sekarang Malik sudah dipastikan bisa sekolah di sini,” ucap Nana saat ditemui di rumahnya, Senin 06 Juli 2026.
Ia juga sangat merespon positif pihak SDN Sindanggalih yang berkomitmen memberikan dukungan fasilitas penunjang berupa penyediaan kursi roda agar Malik bisa dengan mudah bermobilisasi dari rumah menuju sekolah dan sebaliknya.
BACA JUGA: Nasib Pilu Bocah Gizi Buruk Asal Kota Tasikmalaya, Daftar ke SD Malah Disuruh Masuk SLB?
Bahkan, Nana yang sehari-hari sebagai perajin meubel rumahan, berencana membuatkan kursi belajar khusus untuk sang anak yang didesain khusus agar sang buah hati bisa mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas dengan nyaman.
“Saya bersyukur atas perhatian dan solusi cepat yang diberikan oleh pihak sekolah. Terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut mengawal dan memperjuangkan hak pendidikan anak Saya,” ungkapnya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan Nana kepada Anggota DPRD Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi, Dinas Pendidikan dan semua pihak yang telah peduli terhadap nasib anaknya.











