31 Mahasiswa KPI UNIK Cipasung Digembleng Etika Jurnalistik Sebelum Terjun PPL

Momen foto bersama mahasiswa program studi KPI UNIK Cipasung usai mendapat pembekalan sebelum Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Gedung Pascasarjana, Selasa (1/9/2026).

INILAHTASIK.COM | Sebanyak 31 mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah Universitas Islam K.H Ruhiat Cipasung (UNIK Cipasung) Tasikmalaya mendapat pembekalan khusus sebelum menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pascasarjana UNIK Cipasung, Selasa 1 September 2026, tidak hanya membahas teknis pelaksanaan PPL. Para mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai etika jurnalistik, tantangan dunia pers, serta pemanfaatan media digital.

Puluhan mahasiswa tersebut akan melaksanakan PPL selama dua bulan, mulai 3 September hingga 3 November 2026. Mereka ditempatkan di sejumlah instansi media maupun lembaga mitra sebagai bagian dari proses penguatan pengalaman dan kompetensi sebelum memasuki dunia profesional.

Ketua Program Studi KPI UNIK Cipasung, Dr. Istianah, mengatakan pembekalan menjadi tahapan penting agar mahasiswa memahami tanggung jawab selama berada di lingkungan kerja.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Sikap, etika, kedisiplinan, serta kemampuan beradaptasi juga menjadi bagian penting yang harus dibawa ketika menjalani PPL.

“Pembekalan ini kami berikan agar mahasiswa memahami teknis kegiatan, bagaimana menyusun laporan, sekaligus menjaga etika ketika berada di luar kampus maupun di lembaga mitra,” kata Istianah.

Ia menjelaskan, materi jurnalistik dan media digital sengaja dimasukkan karena memiliki keterkaitan erat dengan kompetensi lulusan KPI.

Kurikulum KPI UNIK Cipasung sendiri diarahkan pada tiga profil utama, yakni kemampuan Islamic Public Speaking yang berkaitan dengan dakwah atau khotbah, kemampuan writing melalui jurnalistik, serta Islamic Broadcasting dalam bidang penyiaran.

“Materi jurnalistik dan media digital ini mencakup seluruh profil lulusan kami. Dakwah saat ini sudah memanfaatkan media digital, begitu juga dengan kemampuan menulis jurnalistik dan penyiaran Islam,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga mendapat materi langsung dari praktisi media, Deden Rahadian. Ia mengajak mahasiswa melihat dunia jurnalistik secara lebih realistis, termasuk berbagai persoalan yang dapat muncul ketika menjalankan tugas di lapangan.

Deden menekankan bahwa kemampuan jurnalistik harus berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Menurutnya, profesi wartawan memiliki tanggung jawab besar karena produk jurnalistik dapat memengaruhi persepsi dan kehidupan masyarakat.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menggunakan identitas atau profesi wartawan untuk kepentingan yang bertentangan dengan prinsip jurnalistik.

“Mahasiswa sebagai generasi penerus harus memahami Kode Etik Jurnalistik dan ikut menyosialisasikan praktik jurnalistik yang produktif serta profesional. Jangan sampai ada penyalahgunaan nama atau profesi wartawan,” tegas Deden.

Deden menilai fenomena munculnya oknum yang mengatasnamakan wartawan menjadi tantangan tersendiri bagi insan pers. Ia mencontohkan kasus seorang pria yang menggunakan kartu pers saat mendatangi sebuah sekolah di Sukabumi hingga aksinya menjadi perhatian publik di media sosial.

Menurutnya, kejadian semacam itu tidak boleh dianggap sepele karena berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap profesi wartawan.

Karena itu, mahasiswa KPI yang nantinya bersentuhan dengan dunia media diharapkan mampu membedakan kerja jurnalistik profesional dengan tindakan yang hanya mengatasnamakan pers.

Pembekalan tersebut sekaligus untuk memastikan mahasiswa yang akan mengikuti PPL memiliki kesiapan lebih menyeluruh.

Selain membawa bekal pengetahuan dan keterampilan, mahasiswa diharapkan mampu menjaga etika, integritas, serta nama baik kampus selama menjalankan tugas di lembaga mitra.

“Yang kami harapkan, mahasiswa tidak hanya selesai melaksanakan PPL, tetapi benar-benar mendapatkan pengalaman yang bisa menjadi bekal ketika mereka masuk ke dunia kerja,” pungkas Istianah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *