Cara Menjadi Sederhana

INILAHTASIK, 22 Agustus 2026 — Dua orang duduk di sebuah ruang makan. Nasi telah tersedia, perut lapar, tetapi keduanya tidak segera makan. Mereka menunggu satu benda yang tampaknya sepele: sendok.

Dari situ, Cara Menjadi Sederhana bekerja. Pertunjukan ini tidak sekadar menawarkan kelucuan, tetapi membongkar bagaimana manusia modern dapat kehilangan kemampuan melakukan sesuatu yang paling elementer karena terlalu lama tunduk pada aturan, prosedur, dan kebutuhan akan kepastian.

Karya tersebut dipentaskan dalam agenda apresiasi di Ngaos Art, Tasikmalaya, pada 21 Agustus 2026, sebelum dibawa ke Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta, 26–28 Agustus.

Tiga tokohnya, Mimi, Kido, dan Miqdam, berada dalam situasi absurd. Mereka ingin makan, tetapi tindakan sederhana itu berubah menjadi persoalan prosedural.

Sendok yang tak kunjung hadir kemudian berkembang menjadi metafora tentang manusia yang terus menunggu sesuatu di luar dirinya sebelum berani menjalani hidup.

Dr. Rahman Sabur menilai absurditas dalam karya tersebut tidak berhenti pada permainan logika yang terbalik.

“Absurditas dalam Cara Menjadi Sederhana bekerja sebagai epistemologi tubuh. Slobodon dan Anteh bukan manusia yang kehilangan akal, tetapi manusia yang terlalu patuh kepada akal yang telah dilembagakan. Mereka mengetahui bahwa makan itu sederhana, tetapi pengetahuan tersebut tidak lagi cukup untuk membuat mereka bertindak. Di situlah absurditas menemukan tragedinya: manusia masih memiliki kehendak, tetapi kehilangan keberanian untuk menggunakan kehendaknya.” ungkap Sabur.

Arif, S.Pd., M.Sn., melihat kekuatan karya justru terletak pada kemampuannya menghadirkan gagasan filosofis melalui pengalaman sehari-hari.

“Kesederhanaan di dalam karya ini bukan kategori estetika, melainkan problem eksistensial. Manusia modern tidak selalu menderita karena kekurangan pilihan, tetapi justru karena terlalu banyak sistem yang menentukan bagaimana ia harus memilih. Sendok menjadi benda kecil yang mengungkap persoalan besar: kapan manusia berhenti meminta legitimasi kepada dunia dan mulai bertanggung jawab terhadap keberadaannya sendiri?” jelasnya.

Catatan serupa disampaikan praktisi teater Wit Jabo. Menurut dia, benda yang tidak hadir justru menjadi pusat dramaturgi pertunjukan.

“Sendok itu tidak ada, tetapi seluruh perilaku tokoh ditentukan oleh ketidakhadirannya. Secara teatrikal, ini menarik karena objek material berubah menjadi kekuatan imaterial. Ia seperti prosedur, notifikasi, aturan, dan suara otoritas yang tidak selalu terlihat, tetapi mampu mengendalikan tubuh manusia.” terangnya.

Sementara itu, Moa Aziz membaca pertunjukan tersebut sebagai refleksi mengenai kebiasaan manusia menunda kehidupan.

“Kita semua memiliki sendok yang kita tunggu. Kita mengatakan akan hidup setelah sukses, setelah diakui, setelah keadaan membaik. Persoalannya, kehidupan tidak pernah benar-benar menunggu kita selesai mempersiapkan diri.” tuturnya.

Aris Sehat Tentrem melihat dimensi sosial-politik karya itu dalam bentuk yang lebih halus. Nasionalisme, menurut dia, tidak muncul melalui slogan, melainkan melalui kritik terhadap mentalitas yang membuat manusia kehilangan kemandirian dalam menentukan tindakan.

“Nasionalisme dalam karya ini hadir sebagai etika keberanian. Bangsa yang dewasa bukan bangsa yang memiliki aturan paling banyak, melainkan bangsa yang mampu membedakan mana aturan yang menjaga kehidupan dan mana aturan yang justru membuat kehidupan berhenti. Ketika manusia tidak mampu makan tanpa prosedur, persoalannya bukan lagi tentang sendok, tetapi tentang hilangnya otonomi manusia.” ujarnya.

Pertunjukan itu sekaligus menyimpan kritik terhadap kebiasaan masyarakat kontemporer yang menjadikan prosedur sebagai tujuan. Sesuatu yang semula dibuat untuk memudahkan kehidupan perlahan berubah menjadi sistem yang harus ditaati, bahkan ketika tujuan awalnya telah dilupakan.

Karena itu, Cara Menjadi Sederhana tidak mengajak penonton kembali ke kehidupan primitif. Pertunjukan ini justru mempertanyakan mengapa manusia yang memiliki teknologi, pengetahuan, institusi, dan berbagai perangkat kemudahan semakin sulit melakukan hal-hal yang paling sederhana.

Di titik tersebut, komedi berubah menjadi kegelisahan. Tawa penonton perlahan berhadapan dengan pertanyaan yang tidak terlalu lucu: berapa banyak hal dalam hidup yang sebenarnya tidak perlu ditunggu?

Pementasan di Ngaos Art menjadi salah satu ruang pembacaan sebelum karya tersebut berangkat ke Yogyakarta. Kehadiran para pengamat, akademisi, dan praktisi teater memberikan perspektif terhadap kemungkinan pembacaan karya, terutama mengenai hubungan antara absurditas, tubuh, prosedur, dan kebebasan manusia.

Tasikmalaya pun tidak hanya menjadi tempat asal pertunjukan. Kota ini dibawa sebagai pengalaman artistik menuju ruang festival nasional.

Ketika Ekosistem Masih Menunggu

Namun, di tengah apresiasi terhadap karya tersebut, terdapat catatan lain yang tak kalah penting. Pementasan di Ngaos Art pada 21 Agustus belum dihadiri secara langsung oleh perwakilan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) maupun Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Ketidakhadiran tersebut tentu tidak mengurangi nilai artistik pertunjukan. Namun, situasi itu membuka pertanyaan yang lebih luas mengenai sejauh mana perguruan tinggi dan pemerintah daerah hadir dalam proses pertumbuhan ekosistem seni pertunjukan di daerahnya sendiri.

Dukungan terhadap seniman tidak selalu harus berbentuk anggaran. Kehadiran, perhatian, ruang dialog, dan pengakuan juga merupakan bagian penting dari ekosistem kebudayaan.

Sebab, karya yang berangkat dari Tasikmalaya dan kemudian berjalan ke panggung nasional sesungguhnya tidak hanya menjadi milik senimannya. Ia merupakan bagian dari cerita kebudayaan kota yang ikut membesarkannya.

Di sinilah ironi Cara Menjadi Sederhana menemukan lapisan lain. Sebuah pertunjukan berbicara tentang pentingnya berhenti menunggu, sementara ekosistem seni di sekitarnya masih menunggu untuk benar-benar hadir.

Pada akhirnya, Cara Menjadi Sederhana menawarkan pertanyaan yang tampak kecil tetapi mengandung konsekuensi filosofis yang panjang: Jika tangan kita masih ada, mengapa kita terus menunggu sendok?

Mungkin menjadi sederhana bukan berarti memiliki lebih sedikit.

Mungkin menjadi sederhana adalah keberanian untuk kembali melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah kita ketahui caranya.

Makan. Berjalan. Memilih. Hidup.

Dan, sesekali, berhenti menunggu izin dari dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *