INILAHTASIK.COM | Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada Rabu (20/5/2026) menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan lingkungan skala nasional. Bertempat di Villa Perancis, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (Pager Saguling) resmi dideklarasikan. Acara yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 16.30 WIB ini menandai babak baru keterlibatan komunitas berbasis agama dalam penyelamatan ekologi.
Namun, gerakan ini lahir bukan dari ruang diskusi yang nyaman, melainkan dari sebuah urgensi lingkungan yang sudah berada di titik nadir. Berdasarkan data PLN Indonesia Power UBP Saguling per Mei 2026, kondisi waduk saat ini sangat memprihatinkan karena sekitar 94 hektare permukaan airnya telah tertutup eceng gondok. Lebih parah lagi, Kementerian Lingkungan Hidup mencatat tak kurang dari 200 ton sampah masuk ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum setiap harinya, memicu laju sedimentasi waduk hingga mencapai angka fantastis 4,2 juta meter kubik per tahun.
Padahal, Waduk Saguling adalah benteng sekaligus pintu pertama Sungai Citarum sebelum aliran airnya menghidupi Waduk Cirata dan Jatiluhur. Tiga waduk bertingkat ini bukan sekadar genangan air, melainkan urat nadi utama penopang pasokan listrik wilayah Jawa-Bali serta sumber irigasi pertanian di sepanjang Citarum hilir. Jika Saguling lumpuh, separuh napas energi dan pangan nasional ikut terancam.
Di tengah ancaman krisis itulah Pager Saguling hadir sebagai gerakan sosial-ekologis. Diinisiasi oleh lima tokoh kunci, yakni Haris Bunyamin selaku konseptor, Vega Karwanda, Henda Suwenda, Kustiwa Kartawiria, dan Ustadz Hedar Suhendar, gerakan ini mengakar pada kolaborasi antara santri, budayawan, akademisi, dan masyarakat sipil. Semangat ini tercermin kuat dalam tema bahasa Sunda yang mereka usung, “Ngahudang Kasadaran, Ngariksa Lingkungan, Ngajaga Cai Pikeun Kahirupan Bangsa” yang berarti Membangkikan Kesadaran, Menjaga Lingkungan, Menjaga Air untuk Kehidupan Bangsa.
Secara filosofis, nama gerakan ini mengacu pada kata “aub” yang berarti keteraturan dan kesabaran kolektif, serta “pangauban” yang bermakna ruang berhimpun dan gotong-royong di bawah satu naungan. Puncak acara deklarasi ditandai dengan prosesi budaya sarat makna, “Ngahudang Cai” atau Membangunkan Air. Prosesi ini dilakukan dengan mengambil air langsung dari mata air (seke) purba di kawasan Saguling, diikuti dengan doa bersama, dan pembagian bibit pohon kepada seluruh peserta sebagai simbol konkret komitmen komunal untuk merevitalisasi serta menjaga keberlanjutan sumber daya air setempat. Sebelum prosesi dimulai, panitia juga membagikan santunan kepada puluhan anak yatim dan dhuafa dari kampung-kampung sekitar waduk.
Dibacakan bersama oleh para deklarator, Pager Saguling merumuskan lima pilar gerakan moral mereka ke depan. Pertama, menjadi gerakan moral dan sosial dalam menjaga lingkungan hidup sebagai bentuk amanah Tuhan dan warisan luhur peradaban bangsa. Kedua, membentuk kader-kader lingkungan yang berbasis pada kekuatan pesantren, komunitas pemuda, dan generasi muda bangsa. Ketiga, mengembangkan pendekatan ekoteologis yang menempatkan aktivitas menjaga alam sebagai bagian integral dari ibadah dan akhlak sosial.
Pilar keempat berfokus pada aksi nyata konservasi dengan mendorong penuh rehabilitasi sungai, penghijauan masif, pengelolaan sampah mandiri, serta pengembangan ekonomi hijau. Sebagai penutup, pilar kelima menegaskan posisi mereka untuk menjadi mitra kritis sekaligus strategis bagi masyarakat dan pemerintah demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Acara yang berlangsung khidmat ini diawali dengan tausiah kebangsaan dan lingkungan oleh Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Asep Saeful Muhtadi, M.A., yang menggarisbawahi pentingnya teologi lingkungan dalam dakwah modern. Sekapur sirih dan doa juga dipersembahkan oleh Drs. H. Agus Ishak dari Pondok Pesantren Arafah.
Deklarasi ini turut mendapat dukungan penuh dari ratusan tokoh pemuda, perwakilan santri, serta para pejuang lingkungan senior Jawa Barat. Di antaranya tampak hadir Memet Ahmad Surahman atau yang akrab disapa Eyang Memet, Dr. Kun-Kunrat M.Si, Ketua KORMI Jabar Ir. Denda, Dr. Endang SH MH, serta perwakilan dari Pusat Peran Serta Masyarakat (PPM), Agus Khazim dan Zaki Zimatillah Z.
Meski bergerak dari akar rumput lokal di Bandung Barat, Pager Saguling tidak berjalan sendiri. Langkah mereka ke depan didampingi secara kelembagaan oleh KSS Trust Fund melalui Treasury Board. Kolaborasi ini membawa visi lokal tersebut terbang ke ranah global melalui misi Towards a new Global Partnership of Civil Society for Environmental Restoration and Ecological Sustainability. Sebuah langkah awal yang menjanjikan, tepat di hari peringatan kebangkitan bangsa.











