INILAHTASIK.COM | Pada dunia kerajinan tangan dan pemberdayaan UMKM, nama Ny. Dyah Fandy Dharmawan dikenal sebagai sosok yang tidak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga visi yang kuat untuk melestarikan budaya bangsa.
Di tangan Ny. Dyah Fandy Dharmawan, kain wastra bukan sekadar lembaran kain tradisional yang disimpan di lemari, melainkan sebuah pernyataan gaya yang dinamis.
Sebagai Ketua Persit KCK Ranting 3 Yonif 321 Cabang XI Brigif 13 Koorcab Divif 1 PG Kostrad, mampu menggabungkan dedikasi kepemimpinan organisasi dengan kecintaan yang mendalam terhadap kekayaan tradisi Indonesia. dedikasi tinggi pada pelestarian budaya melalui karya inovatif: Strap Wastra Nusantara.
Karya unggulan dalam kekhasan “Strap Wastra Nusantara”, menjadi simbol nyata dari filosofi kreatifitas. Melalui karya ini, kain tradisional tidak lagi hanya dipandang sebagai benda statis, melainkan sebuah cerita yang hidup.
Setiap detailnya sarat akan makna, memadukan nilai-nilai luhur masa lalu dengan sentuhan gaya masa kini. Perpaduan ini menghasilkan sebuah harmoni yang elegan, memungkinkan keindahan budaya Nusantara mengalir secara alami dalam keseharian masyarakat modern.
Produk unggulan beliau berfokus pada transformasi kain tenun maupun songket tangan (handwoven) yang dirangkai menjadi strap tas eksklusif. Setiap helai kain wastra yang dipilih membawa motif khas dari berbagai daerah di Nusantara, menjadikannya sebuah karya seni yang dipakai (wearable art).
Bahan premium nan syarat makna. Bahan pertama adalah kulit sapi vegetarian tanned premium (pewarnaan alam) yang mengurangi resiko akan terjadinya alergi bahan kimia saat mengenakan strap.
Bahan kedua adalah wastra nusantara baik songket, tenun, dan ikat dari berbagai nusantara, bahan ini kita dapatkan dari seluruh pengrajin di daerah. Bahan ketiga adalah rantai dan pengait premium (nikel silver, gold, nikel hitam) sebagai pengikat keseluruhan strap.
Karya Strap Wastra Nusantara ini bukan sekadar produk kerajinan biasa. Kelahirannya terinspirasi langsung oleh dedikasi Ibu Herawati Boediono, beliau adalah Ketua Umum Dekranas pada tahun 2009 sampai dengan 2014, yang dikenal sebagai sosok luar biasa dalam pengembangan industri kerajinan nasional.
Dukungan dan visi Ibu Herawati Boediono dalam melestarikan warisan budaya menjadi pemantik semangat bagi Ny. Dyah Fandy Dharmawan untuk terus menghasilkan karya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memiliki standar kualitas nasional.
Produk utama yang dihasilkan adalah strap tas yang dirangkai secara teliti dari kain tenun tangan (handwoven) pilihan. Setiap helai wastra yang digunakan membawa cerita dan filosofi mendalam dari berbagai daerah di Indonesia, yang kemudian dipadukan dengan material pendukung berkualitas tinggi.
Keunggulan desain ini terletak pada fleksibilitasnya, meliputi Adaptif: Dirancang khusus agar sesuai digunakan dalam segala moment, mulai dari acara kedinasan formal hingga suasana santai. Filosofis: Setiap detail jahitannya merupakan wujud nyata kecintaan terhadap budaya bangsa yang dipadukan dengan sentuhan modern. Fungsional: Mengubah tampilan tas biasa menjadi lebih berkarakter, memberikan harmoni antara gaya hidup modern dan nilai tradisi.

Tanggal 7 Mei 2025 di Batalyon Infantri 321 Galuh Taruna Kostrad
Di tengah suasana hangat kunjungan kerja pada tanggal 7 Mei 2025, terdapat satu momen yang menjadi simbol apresiasi dan penghormatan yang mendalam. Sebagai bentuk kenang-kenangan atas kehadiran Ibu Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Gabungan Kostrad, ini merupakan karya dan persembahan gabungan anggota persit Kartika Chandra Kirana Ranting 3 Yonif 321 yang memadukan keanggunan wastra Nusantara dengan sentuhan modernitas yang fungsional.
Dedikasi Ny. Dyah Fandy Dharmawan dalam dunia kerajinan telah diakui secara profesional melalui perolehan sertifikasi kurasi UMKM tingkat Madya oleh Dekranasda Kota Depok. Pencapaian ini merupakan bukti nyata akan kualitas karya, manajemen, dan tingkat kesulitan teknis yang mumpuni.
Level Madya menunjukkan bahwa karya-karya beliau telah melewati standar kurasi yang ketat dan memiliki daya saing tinggi di pasar menengah ke atas. Detail konstruksi strap tas ini dirancang dengan memperhatikan ketahanan Teknis, menggabungkan kekuatan material modern dengan kelembutan tekstur kain tenun asli.
Estetika Tradisional, Menonjolkan pola geometris dan filosofi warna yang sarat makna dalam setiap jahitannya. Serta sentuhan modern, Penggunaan perangkat keras (hardware) berkualitas premium yang memberikan kesan mewah namun tetap etnik.
Salah satu keunggulan utama dari strap tas wastra ini adalah fleksibilitasnya. Ny. Dyah Fandy Dharmawan merancang karya ini agar sesuai untuk segala momen. Suasana Formal: Memberikan aksen berkelas pada tas tangan saat menghadiri acara kedinasan atau undangan resmi.
Gaya Casual: Mengubah tampilan tas harian menjadi lebih berkarakter dan unik saat berkumpul santai. Harmoni Gaya: Menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mencintai tenun tanpa harus merasa kaku, menciptakan harmoni sempurna antara warisan leluhur dan tren masa kini.
Berkat kompetensi dan posisi kepemimpinannya, Ny. Dyah Fandy Dharmawan menjadi sosok yang aktif berkontribusi dalam berbagai forum strategis dan kerap diundang untuk memberikan perspektif dan memamerkan karya dalam berbagai agenda penting, termasuk kegiatan Pemerintah Kota Depok dengan menjadi bagian dari penggerak ekonomi kreatif lokal, khususnya dalam Dekranasda Kota Depok.
Pada Forum Dinas Pemerintahan memberikan inspirasi bagi pengembangan UMKM kerajinan. Termasuk juga di lingkungan DPRD Kota Depok terlibat dalam kegiatan yang mendukung pelestarian budaya dan pemberdayaan perempuan. Bazar Pertama: Moment Bazar di Seskoal (25 November 2024), menjadi momentum untuk lebih memajukan industri wastra nusantara.
isi Kedepan Bagi Ny. Dyah Fandy Dharmawan, setiap helai wastra adalah wujud kecintaan terhadap tanah air. Melalui kepemimpinannya di Persit dan kiprahnya sebagai pengrajin, akan terus berkomitmen untuk memastikan bahwa keindahan budaya Indonesia tetap relevan, dicintai, dan menjadi bagian dari gaya hidup masa kini.
“Setiap helai bukan sekadar karya, melainkan cerita yang hidup—mengalirkan keindahan budaya dalam harmoni gaya masa kini.”
Menyulam Visi, Mewujudkan Aksi: Pameran PERSIT BISA Vol. II
Pameran PERSIT BISA Vol. II Tahun 2026 bukan sekadar ruang pamer produk kreatif, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang kekuatan visi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Di sini, komitmen perempuan berdaya tidak lagi hanya berupa wacana, melainkan diwujudkan dalam karya nyata yang menyentuh akar budaya sekaligus menjawab tantangan modernitas. Kekuatan Visi yang diusung dalam pameran ini adalah potensi lokal keberlanjutan.
Perempuan bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga inovator. Relevansi ini terlihat dari bagaimana wastra Indonesia seperti kain tenun yang sarat filosofi tidak lagi dibiarkan menjadi artefak masa lalu.
Di tangan anggota Persit yang visioner, kain-kain ini bertransformasi menjadi perangkat gaya hidup urban, seperti strap tas kontemporer yang kini bersanding dengan kebutuhan mobilitas tinggi. Simbol Komitmen Perempuan Berdaya.
Jargon “BISA” bukan sekadar tajuk, melainkan akronim dari semangat untuk Berinovasi, Inovatif, Santun, dan Amanah. Pameran ini membuktikan bahwa Perempuan adalah Penggerak Ekonomi melalui kreasi produk lokal, perempuan turut memperkuat ekonomi kreatif dari lingkup terkecil.
Perempuan adalah Penjaga Budaya dengan mengadaptasi tenun ke dalam bentuk modern, mereka memastikan wastra tetap dicintai oleh generasi muda. Perempuan adalah Pemimpin Perubahan dalam mengubah persepsi bahwa “tradisional” itu kuno menjadi sesuatu yang elegan, eksklusif, dan berkelas.
“Pameran PERSIT BISA Vol. II adalah bukti nyata bahwa saat kekuatan visi bertemu dengan komitmen hati, perempuan mampu menciptakan mahakarya. Inilah wajah perempuan Indonesia hari ini: berdaya, berbudaya, dan senantiasa relevan melintasi waktu.”














