Opini  

May Day, Saat Peran Dibalik, Siapa Yang Gemetar?

INILAHTASIK.COM | Ada satu pertanyaan sederhana, tapi daya rusaknya seperti retak halus di kaca tebal:
kalau semua buruh, siapa yang didemo?

Kita terbiasa melihat dunia dalam pembagian yang rapi. Buruh dan tuan. Yang berteriak dan yang mendengar. Yang turun ke jalan dan yang cukup melihat dari balik jendela berlapis pendingin udara. Seolah-olah pembagian ini bukan hasil sejarah, melainkan hukum alam.

May Day pun berjalan seperti upacara yang terlalu sering diulang. Spanduk dicetak, tuntutan diucapkan, barikade disiapkan, lalu sore datang dan semua kembali ke posisi masing-masing. Tidak ada yang benar-benar berubah, kecuali mungkin jumlah kelelahan.

Masalahnya bukan lagi pada ketimpangan itu sendiri.
Masalahnya adalah ketika ketimpangan terasa wajar.

Coba kita balik panggungnya.

Bayangkan para pemilik modal turun ke jalan.
Berdasi, bersepatu mengilap, berdiri di bawah matahari yang tidak mereka atur suhunya.
Membawa poster yang isinya bertentangan dengan logika yang selama ini mereka jaga:

“Kurangi keuntungan kami.”
“Perberat kewajiban kami.”

Aneh, tentu. Bahkan terdengar seperti lelucon yang gagal.
Tapi justru di situlah letak persoalannya.

Kita tidak hanya hidup dalam sistem ekonomi, tapi dalam sistem peran yang begitu kaku sampai-sampai terasa sakral. Siapa yang boleh mengeluh, siapa yang harus diam, siapa yang pantas didengar, dan siapa yang cukup menjadi latar.

Pertanyaan itu membongkar satu hal yang jarang diakui:
“tuan” dan “buruh” bukan sekadar posisi, tapi kebiasaan yang diwariskan.
Kebiasaan untuk didengar.
Atau kebiasaan untuk diabaikan.

Jika semua orang menjadi buruh, mungkin tidak ada yang didemo.
Bukan karena keadilan tercapai, tapi karena kelelahan menjadi bahasa bersama yang tak lagi diterjemahkan sebagai tuntutan.

Dan jika suatu hari para tuan benar-benar turun ke jalan, dunia tidak otomatis menjadi lebih adil.
Namun kita akan melihat sesuatu yang selama ini disembunyikan rapi:
bahwa kekuasaan pun bisa merasa sempit di dalam tubuhnya sendiri.

May Day seharusnya bukan sekadar peringatan tahunan tentang konflik yang itu-itu saja.
Ia seharusnya menjadi momen untuk mengajukan pertanyaan yang lebih berbahaya:

Mengapa peran ini begitu sulit dipertukarkan?
Siapa yang menulis naskahnya?

Dan siapa yang diuntungkan ketika kita terus memainkannya tanpa pernah menggugat?
Karena mungkin persoalannya bukan pada siapa yang turun ke jalan.

Melainkan pada dunia yang mengatur agar satu pihak harus terus berteriak,
sementara pihak lain cukup menutup jendela—
dan mengira itu sudah cukup untuk tidak mendengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *