INILAHTASIK.COM | Pameran produk kreatif masyarakat yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Jazirah Ciamis Creative Expo (JCE) 2026 di kawasan Objek Wisata Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, menghadirkan beragam hasil karya pelaku usaha dan perajin lokal. Kegiatan yang berlangsung pada 5 hingga 7 Juni 2026 itu menampilkan ratusan produk kerajinan dengan bahan baku dan desain yang beragam.
Di antara puluhan stan yang berdiri di area pameran, Saung Kataji Buhun Kiwari menjadi salah satu yang paling banyak menarik perhatian pengunjung. Meski tidak memamerkan barang dalam jumlah besar, setiap karya yang ditampilkan memiliki nilai kreativitas dan keunikan tersendiri.
Salah satu produk yang mencuri perhatian adalah lampu hias dan lampion yang dibuat dari gedebog atau batang pohon pepaya. Bahan yang umumnya dianggap limbah itu disulap menjadi karya seni bernilai ekonomi tinggi.
Pemilik stan, Upen Suhendar atau yang akrab disapa Abah Upen, menjelaskan bahwa proses pembuatan lampu hias tersebut membutuhkan ketelitian agar tekstur alami gedebog tetap terlihat menarik.
“Lampu hias ini memang terbuat dari gedebog pohon pepaya yang kami olah melalui beberapa tahapan hingga akhirnya menjadi produk seperti yang dipamerkan sekarang,” ujar Abah Upen sambil menunjukkan salah satu lampu hasil karyanya.
Tak hanya lampu hias, stan tersebut juga menampilkan peci atau kopiah berbahan irisan bambu yang menjadi produk andalan. Menurut Abah Upen, kerajinan tersebut telah ia kembangkan sejak beberapa tahun lalu dan kini pemasarannya telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia bahkan hingga mancanegara.
“Untuk kopiah berbahan bambu ini sudah lama saya buat. Awalnya saya unggah ke media sosial, ternyata responsnya sangat baik. Alhamdulillah banyak yang memesan, baik untuk dipakai sendiri maupun untuk dijual kembali,” katanya.
Sehari-hari, Abah Upen diketahui bertugas sebagai mantri kesehatan di Puskesmas Panjalu. Di luar profesinya itu, ia terus mengembangkan kreativitas dalam mengolah bambu dan berbagai bahan alami menjadi aneka produk kerajinan.
Dari tangannya lahir puluhan jenis karya, mulai dari kujang, peci flora, topi flora, aksesoris bambu, plakat, merchandise, berbagai jenis anyaman bambu untuk kebutuhan rumah tangga, hingga alat musik tradisional Sunda seperti karinding dan celempung. Bahkan, ia juga membuat pagar rumah berbahan bambu dengan desain artistik.
Abah Upen menuturkan bahwa produk peci dan topi flora menjadi salah satu karya yang paling diminati karena menggunakan bahan-bahan alami yang tidak biasa.
“Peci dan topi flora ini dibuat dari berbagai jenis tumbuhan. Ada yang menggunakan hati bambu, ranting bambu, buah gambas atau oyong kering, rumput, jerami padi, pandan, pohon pepaya, bahkan daun pinus. Semua bahan kami olah menjadi produk yang memiliki ciri khas tersendiri,” ungkapnya.
Keberadaan produk-produk kreatif tersebut menjadi bukti bahwa bahan alam yang sering dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi karya unik dan memiliki nilai jual tinggi.
Melalui ajang JCE 2026, para perajin lokal pun mendapatkan ruang untuk memperkenalkan kreativitas mereka kepada masyarakat luas.











