INILAHTASIK.COM | Upaya memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap ancaman bencana terus dilakukan Forum Koordinasi (FK) Tagana Kabupaten Tasikmalaya. Kali ini, organisasi relawan kebencanaan tersebut memberikan pembekalan dalam Pelatihan Tanggap Bencana Darurat yang digelar di Desa Cikeusal, Kecamatan Tanjungjaya, Senin 20 Juli 2026.
Pelatihan tersebut diikuti perangkat desa, relawan, dan unsur masyarakat. Materi yang disampaikan tidak hanya membahas langkah-langkah penanganan saat terjadi bencana, tetapi juga pentingnya layanan dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak pascabencana.
Peserta diberikan pemahaman mengenai cara mengenali potensi ancaman di wilayahnya, menyusun prosedur evakuasi, hingga membangun koordinasi yang efektif antarwarga ketika terjadi situasi darurat. Selain itu, mereka juga dibekali pengetahuan mengenai pendampingan psikologis bagi korban bencana agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat.
Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan kesiapsiagaan merupakan faktor utama dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana. Menurutnya, masyarakat harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum bencana benar-benar terjadi.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, tetapi juga mampu saling membantu dalam proses pemulihan. Dukungan psikososial menjadi bagian penting karena korban bencana tidak hanya mengalami kerugian fisik, tetapi juga tekanan mental yang harus segera ditangani,” ujar Jembar.
Ia menambahkan, pelatihan semacam ini menjadi bagian dari upaya membangun desa yang tangguh bencana melalui peningkatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.
“Harapan kami, setelah mengikuti pelatihan ini, warga Desa Cikeusal mampu menjadi garda terdepan di lingkungannya masing-masing, mulai dari melakukan mitigasi, evakuasi awal, hingga memberikan pendampingan kepada warga terdampak sebelum bantuan lanjutan datang,” tambahnya.
Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap budaya sadar bencana semakin tumbuh di tengah masyarakat sehingga risiko korban jiwa maupun dampak psikologis akibat bencana dapat ditekan semaksimal mungkin.











