INILAHTASIK.COM | Perkembangan sanggar seni, komunitas kreatif, dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni di Tasikmalaya dinilai menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut memunculkan usulan agar pemerintah menghadirkan Sekolah Menengah Kejuruan Indonesia (SMKI) khusus seni pertunjukan sebagai wadah pendidikan formal bagi generasi muda yang memiliki minat dan bakat di bidang seni.
Aktivitas seni seperti teater, musik, dan tari kini semakin banyak ditemukan di lingkungan sekolah menengah. Di sisi lain, berbagai sanggar seni dan komunitas independen terus tumbuh di sejumlah wilayah, mencerminkan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebudayaan.
Seniman dan budayawan Tasikmalaya, Wiwi Ambu Aji, menilai perkembangan tersebut belum diikuti dengan ketersediaan lembaga pendidikan menengah yang secara khusus membina seni pertunjukan. Menurut dia, pembelajaran dan pengembangan bakat seni selama ini masih banyak dilakukan melalui jalur nonformal.
“Minat anak-anak terhadap seni cukup besar. Ruang untuk berlatih juga tersedia melalui sanggar maupun komunitas. Namun, jalur pendidikan formal yang fokus pada seni pertunjukan belum ada, padahal keberadaannya penting untuk menjaga kesinambungan pembinaan,” kata Wiwi di Tasikmalaya.
Ia menilai, keberadaan sekolah kejuruan seni dapat menjadi ruang pengembangan kompetensi yang lebih terstruktur bagi pelajar yang ingin menekuni dunia seni secara serius. Dengan demikian, proses pembinaan tidak hanya bergantung pada kegiatan ekstrakurikuler maupun komunitas.
Menurut Wiwi, kebutuhan terhadap pendidikan seni yang berjenjang juga terlihat dari keberadaan perguruan tinggi yang telah membuka program studi seni. Salah satunya adalah Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan atau Sendratasik di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS).
Kehadiran program studi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan sumber daya manusia yang memiliki dasar pendidikan seni sejak jenjang menengah. Tanpa dukungan pendidikan formal di tingkat sekolah menengah, banyak mahasiswa yang harus mempelajari kembali dasar-dasar seni ketika memasuki perguruan tinggi.
Pelaku seni Tasikmalaya, Kiki Ikhsan Fauzi, menilai pendirian SMKI seni pertunjukan dapat menjadi jembatan antara potensi yang berkembang di sekolah dan komunitas dengan kebutuhan akademik di perguruan tinggi.
Menurut dia, Tasikmalaya telah memiliki modal sosial yang cukup kuat untuk mendukung keberadaan sekolah kejuruan seni. Berbagai komunitas, sanggar, dan kegiatan ekstrakurikuler yang aktif dapat menjadi fondasi dalam membangun ekosistem pendidikan seni yang lebih terarah.
“Dengan banyaknya komunitas dan ekstrakurikuler yang berkembang, Tasikmalaya sebenarnya sudah memiliki modal yang kuat. Yang diperlukan sekarang adalah dukungan dan fasilitasi yang lebih sistematis melalui pendidikan formal,” ujar Kiki.
Selain menjadi sarana pembinaan talenta muda, keberadaan SMKI seni pertunjukan juga dinilai berpotensi memperkuat pelestarian budaya lokal. Sekolah tersebut dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kesenian daerah sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berkontribusi dalam sektor ekonomi kreatif.
Hingga saat ini, gagasan pendirian SMKI seni pertunjukan di Tasikmalaya masih sebatas aspirasi yang berkembang di kalangan pelaku seni dan komunitas budaya. Mereka berharap pemerintah daerah dapat melihat kebutuhan tersebut sebagai bagian dari upaya pembangunan sumber daya manusia berbasis kebudayaan.
Di tengah pertumbuhan ekosistem seni yang semakin dinamis, kehadiran sekolah kejuruan seni dipandang bukan hanya sebagai kebutuhan pendidikan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan seni pertunjukan dan memperkuat identitas budaya Tasikmalaya di masa mendatang.











