INILAHTASIK.COM – Panggung teater tidak selalu menjadi tempat untuk sekadar mempertontonkan cerita. Di tangan para akademisi, panggung dapat menjadi ruang untuk menguji gagasan, membaca persoalan zaman, sekaligus mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman tubuh.
Gagasan tersebut menjadi semangat penyelenggaraan Festival Teater Dosen Indonesia (FTDI) yang berlangsung pada 25–30 Agustus 2026 di lingkungan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Mengusung tema “Panggung Gagasan dalam Estetika Akademik”, festival ini mempertemukan karya para dosen teater dari sejumlah perguruan tinggi seni di Indonesia. Festival diprakarsai oleh Jurusan Teater ISI Yogyakarta sebagai ruang pertemuan antara riset, dramaturgi, isu sosial-kultural, dan praktik artistik.
Ketua Pelaksana FTDI, Dr. Rano Sumarno, M.Sn., mengatakan festival tersebut dirancang bukan sekadar sebagai ajang pertunjukan, melainkan sebagai ruang temu nasional bagi dosen teater yang mengintegrasikan pertunjukan, forum ilmiah, dan publikasi akademik dalam satu ekosistem.
“FTDI hadir sebagai ruang temu nasional dosen teater yang mengintegrasikan pertunjukan teater, forum ilmiah, dan publikasi akademik dalam satu ekosistem,” ujar Rano.

Menurut dia, keberadaan festival tersebut diharapkan dapat memperkuat eksistensi teater di lingkungan akademik, baik sebagai praktik artistik maupun sebagai wilayah penelitian.
Dengan demikian, pertunjukan tidak berhenti ketika lampu panggung padam. Proses kreatif, gagasan, metode penciptaan, serta pengalaman artistik yang muncul selama festival dapat menjadi bagian dari pengetahuan yang terus dibicarakan dan dikembangkan.
Berbeda dari festival teater yang semata-mata berorientasi pada kompetisi, FTDI menempatkan karya sebagai bagian dari proses berpikir. Panggung menjadi tempat bagi para dosen untuk mengolah pengetahuan akademik menjadi pengalaman teatrikal.
“Di atas panggung, pengetahuan menemukan tubuhnya. Gagasan menemukan suaranya. Dan teater menjadi ruang untuk membaca kembali zaman,” demikian gagasan yang menyertai penyelenggaraan festival.
Salah satu karya yang dipentaskan dalam FTDI adalah “Cara Menjadi Sederhana”, karya dan pertunjukan Ab Asmarandana dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Karya tersebut tampil pada Rabu (26/8/2026) pukul 21.00 WIB di Theater Arena ISI Yogyakarta.
“Cara Menjadi Sederhana” berangkat dari persoalan yang tampak sepele, tetapi perlahan membuka pertanyaan yang lebih besar tentang kehidupan manusia modern. Kesederhanaan yang semestinya dekat justru dapat menjadi rumit ketika manusia terlalu banyak bergantung pada aturan, prosedur, dan berbagai perangkat yang diciptakannya sendiri.
Melalui bahasa teater absurd dan pendekatan metateater, persoalan keseharian ditempatkan sebagai pintu masuk untuk mempertanyakan cara manusia menjalani hidup. Benda sederhana, tindakan kecil, serta situasi yang tampak tidak penting dapat berubah menjadi bahan refleksi.
Kehadiran karya tersebut juga memperlihatkan posisi FTDI sebagai ruang perjumpaan berbagai pendekatan artistik. Dalam festival ini, gagasan akademik tidak berhenti sebagai teori atau tulisan ilmiah, tetapi diuji melalui tubuh aktor, ruang, cahaya, bunyi, ritme, dan hubungan langsung dengan penonton.
Sejumlah karya lain turut hadir dalam festival, antara lain “Masa Yang Tertukar” karya Fitri Rahmah, “Hikayat Sepatu #2: Dikupung Kayu” karya Dr. Teuku Afifuddin, “RITE OF LIMA: Raso on the Tongue, Pareso in the Fingers” karya Wendy HS, serta sejumlah karya dari dosen teater berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia.
Rano mengatakan, salah satu hasil penting yang diharapkan dari penyelenggaraan FTDI adalah terbentuknya jejaring dosen teater secara nasional.
“Setelah event berakhir akan terbentuk jejaring dosen teater yang membuka kemungkinan terlahirnya Asosiasi Pendidik Teater,” katanya.
Jejaring tersebut dinilai penting karena persoalan pendidikan teater di Indonesia tidak hanya membutuhkan pertukaran gagasan, tetapi juga ruang bersama untuk mengembangkan praktik, penelitian, dan pengajaran.
Selain membangun jejaring, FTDI diharapkan meninggalkan arsip pengetahuan yang dapat digunakan untuk pengembangan teater di masa mendatang.
“Acara ini juga dipastikan meninggalkan arsip riset pertunjukan yang dapat mengisi kelangkaan literatur teater lokal yang berbasis pada praktik,” ujar Rano.
Arsip tersebut menjadi penting karena pengetahuan teater tidak seluruhnya dapat ditangkap melalui teks. Sebagian pengetahuan justru lahir dari proses latihan, keputusan artistik, tubuh aktor, hubungan dengan ruang, respons penonton, serta berbagai persoalan yang muncul selama proses penciptaan.
Dalam konteks pendidikan, Rano melihat pertunjukan sebagai salah satu cara penting untuk mentransformasikan pengetahuan dari dosen pengkarya kepada mahasiswa.
“Dan satu hal yang paling bernilai dari event ini adalah terjadinya transformasi ilmu pengetahuan dari dosen pengkarya kepada penonton, terutama mahasiswa, mengenai gagasan-gagasan baru yang kemudian dapat dibawa ke dalam diskusi di ruang kelas,” katanya.
Dengan demikian, penonton tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima tontonan. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana gagasan akademik diterjemahkan menjadi karya, kemudian membawanya kembali ke ruang pembelajaran untuk diperdebatkan, ditafsirkan, dan dikembangkan.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa dunia akademik dan dunia artistik tidak harus berjalan di dua jalur yang terpisah. Keduanya dapat bertemu di panggung untuk mempertanyakan kembali pengalaman manusia, persoalan sosial, kebudayaan, dan perubahan zaman.
FTDI pun menjadi semacam laboratorium terbuka. Para dosen tidak hanya hadir sebagai pengajar, tetapi juga sebagai seniman yang mempertanggungjawabkan gagasan melalui karya.
Pada akhirnya, festival ini mengingatkan bahwa pengetahuan tidak selalu harus disampaikan melalui ruang kelas. Ada kalanya pengetahuan harus berjalan ke panggung, mengambil tubuh, bernapas, bergerak, lalu berhadapan langsung dengan penonton.
Di sanalah gagasan diuji: bukan hanya apakah ia dapat dijelaskan, tetapi apakah ia mampu hidup.












