Dua Kali TKO! Atlet Muaythai Tasikmalaya Ukir Prestasi di Kejurnas, 9 Medali Dibawa Pulang

Para atlet muaythai asal Kabupaten Tasikmalaya yang berhasil membawa pulang medali emas, perak dan perunggu di ajang kejurnas yang berlangsung, 4-9 Agustus 2026.

INILAHTASIK.COM | Sembilan atlet Pasundan Muaythai Academy tidak pulang dengan tangan kosong dari panggung nasional. Membawa nama Kabupaten Tasikmalaya sekaligus Jawa Barat, mereka sukses mengoleksi sembilan medali dalam ajang Indonesia Muaythai Championship yang digelar di Kota Bekasi, 4–9 Agustus 2026.

Capaian tersebut terdiri dari dua medali emas, tiga perak, dan empat perunggu. Seluruh atlet yang dikirim Pengcab Muaythai Indonesia Kabupaten Tasikmalaya berhasil menyumbangkan medali melalui sejumlah kelas tanding maupun kategori seni.

Hasil itu sekaligus menjadi bukti bahwa pembinaan atlet Muaythai di Kabupaten Tasikmalaya mulai menunjukkan hasil di level nasional.

Dua emas menjadi capaian paling bergengsi. Emas pertama diraih Bilqis Ufaira Elfina, siswi SMPN 2 Kota Tasikmalaya, dari kelas 34 kilogram. Bilqis tampil dominan hingga mampu menghentikan lawannya lewat Technical Knockout (TKO) pada ronde pertama.

Emas kedua disumbangkan Muhammad Dimas Abdul Fatah, siswa SMPN 1 Singaparna. Bertanding di kelas 32 kilogram, Dimas juga berhasil menyelesaikan laga dengan kemenangan TKO, kali ini pada ronde kedua.

Tiga Perak dan Empat Perunggu

Koleksi medali tidak berhenti pada dua emas. Tiga atlet lainnya mampu membawa pulang medali perak.

Mereka adalah Sonya Nur Aulia Rahmayanti dari kelas 45 kilogram dan Satrio Bayu Sakti pada kelas 60 kilogram. Sementara satu tambahan medali perak diraih pasangan Sonya dan Dila Zaskia Sofyanti melalui kategori seni Muay Boran.

Adapun empat medali perunggu masing-masing dipersembahkan Muhamad Rifdal Hermansyah, Haikal Akbar Riziq, Ira Purwanti, dan Dila Zaskia Sofyanti.

Rifdal dan Haikal yang merupakan mahasiswa STT Cipasung meraih perunggu dari kelas yang mereka ikuti. Sementara Ira turun di kelas 57 kilogram dan Dila pada kategori tanding 45 kilogram.

Dila dan Sonya juga tampil dalam kategori seni Muay Boran dan sukses menambah koleksi medali.

Di kategori seni Wai Khruu, Bilqis kembali menunjukkan kemampuannya dengan menempati peringkat kelima nasional.

Empat Bulan Digembleng, Berat Badan Pun Jadi Tantangan

Di balik sembilan medali tersebut, terdapat proses panjang yang harus dijalani para atlet. Ketua Pengcab Muaythai Indonesia Kabupaten Tasikmalaya, Adi Septian Nugraha, mengatakan persiapan menuju Kejurnas dilakukan secara serius selama sekitar empat bulan.

Tak hanya teknik bertarung yang diasah. Kondisi fisik, mental hingga berat badan atlet harus dikontrol ketat agar sesuai dengan kelas pertandingan.

“Untuk bisa berangkat ke event besar skala nasional tersebut, mereka berlatih secara maksimal selama kurang lebih empat bulan. Selain itu, mereka juga harus berjuang menurunkan serta menjaga berat badan agar tetap bertahan pada kategori kelas yang dipertandingkan,” ujar Adi.

Menurutnya, sembilan medali yang berhasil dibawa pulang merupakan hasil kerja bersama antara atlet dan tim pelatih.

“Alhamdulillah hasil yang diberikan semua atlet yang berangkat ke Kejurnas ini bisa membawa medali. Kendatipun tidak semua meraih medali emas, tentunya itu merupakan bukti dari hasil kerja keras mereka serta tim pelatih yang menggembleng mereka sebelum keberangkatan,” katanya.

Satrio, Dua Kali TKO Sebelum Takluk di Partai Final

Salah satu perjuangan yang cukup menyita perhatian datang dari Satrio Bayu Sakti.

Turun di kelas 60 kilogram, Satrio harus melewati tiga pertarungan. Dua laga pertama berhasil dilewati dengan kemenangan TKO, masing-masing pada ronde pertama dan ronde kedua.

Namun, langkahnya terhenti pada pertandingan terakhir. Satrio harus mengakui keunggulan lawan berdasarkan perolehan poin dan akhirnya membawa pulang medali perak.

“Pada event ini, saya mohon maaf hanya mampu mempersembahkan medali perak. Meskipun telah berusaha sekuat tenaga, namun hasil akhir itulah yang mampu saya berikan,” ujar Satrio.

Medali perak tersebut menjadi gambaran betapa ketatnya persaingan di level nasional. Di sisi lain, pengalaman tiga pertarungan dalam satu kejuaraan menjadi bekal penting bagi Satrio untuk menghadapi pertandingan berikutnya.

Jadi Alarm Menuju Porprov XV Jabar

Bagi Pengcab Muaythai Indonesia Kabupaten Tasikmalaya, sembilan medali dari Kejurnas bukan sekadar catatan prestasi. Hasil tersebut juga menjadi bahan evaluasi sebelum menghadapi Porprov XV Jawa Barat 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada awal November.

Sepulang dari Bekasi, jajaran pelatih dan pengurus akan mengevaluasi performa seluruh atlet. Program latihan pun dipersiapkan untuk ditingkatkan, terutama bagi atlet yang diproyeksikan masuk dalam kontingen Kabupaten Tasikmalaya pada Porprov.

“Ajang ini menjadi tolok ukur penting untuk melihat kesiapan atlet. Masih ada waktu untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki kekurangan sebelum menghadapi Porprov,” kata Adi.

KONI: Jangan Berhenti di Kejurnas

Sekretaris Umum KONI Kabupaten Tasikmalaya, Nana Sumarna, memberikan apresiasi atas capaian tersebut.

Menurutnya, prestasi sembilan atlet itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ia mengaku melihat langsung proses latihan keras yang dijalani para atlet, termasuk pembentukan fisik dan mental di camp pelatihan.

“Tidak heran memang, saya melihat mereka berlatih sangat keras, menempa fisik dan mentalnya selama di camp pelatihan. Makanya saya percaya mereka bakal mampu memberikan prestasi terbaiknya,” tegasnya.

Ia berharap keberhasilan di level nasional tidak membuat para atlet cepat puas. Sebaliknya, sembilan medali tersebut harus menjadi pijakan untuk memburu prestasi yang lebih tinggi di Porprov.

“Prestasi ini harus terus ditingkatkan, terutama untuk membuktikan pada event Porprov yang akan datang. Saya targetkan minimal perolehan medali yang sama bisa dibawa pulang oleh Pengcab Muaythai Indonesia Kabupaten Tasikmalaya nanti,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *