INILAHTASIK.COM | Program Sekolah Maung yang mulai diterapkan pada tahun ajaran 2026/2027 mendapat respons luar biasa dari masyarakat. Program pendidikan yang menjadi gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, itu terbukti mampu menarik minat calon peserta didik dari berbagai wilayah di Kabupaten Tasikmalaya.
Antusiasme tersebut terlihat jelas di SMAN 1 Singaparna yang menjadi satu-satunya sekolah di Kabupaten Tasikmalaya yang dipercaya menyelenggarakan program Sekolah Maung. Menjelang penutupan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), Jumat (29/5/2026), ratusan calon siswa bersama orang tua memadati sekolah untuk melakukan pendaftaran.
Kepala SMAN 1 Singaparna, H. Dede Iryanto S.Pd, M.Pd, mengungkapkan jumlah pendaftar terus bertambah hingga hari terakhir pendaftaran.
“Sampai hari terakhir ini jumlah total pendaftar mencapai 717 orang,” ujar Dede saat ditemui di SMAN 1 Singaparna, Jumat 29 Mei 2026.
Jumlah tersebut jauh melampaui kuota yang tersedia. Menurut Dede, Sekolah Maung di SMAN 1 Singaparna hanya menyediakan 384 kursi bagi peserta didik baru.
Kuota tersebut terbagi dalam beberapa jalur penerimaan, yakni Jalur Potensi Akademik sebanyak 10 persen atau 38 siswa, Jalur Prestasi Rapor dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebesar 50 persen atau 192 siswa, Jalur Prestasi Akademik 20 persen atau 77 siswa, serta Jalur Kompetensi Akademik 20 persen atau 77 siswa.
Meski mendapat sambutan tinggi dari masyarakat, pelaksanaan pendaftaran tidak sepenuhnya berjalan mulus. Dede mengakui sempat terjadi sejumlah kendala teknis pada sistem pendaftaran di awal pembukaan SPMB.
“Pada hari pertama aplikasi mengalami kendala, kemudian hari kedua TKA belum muncul sehingga proses pendaftaran dan verifikasi belum optimal. Baru pada hari ketiga dan keempat pendaftar mulai masuk, dan lonjakan paling besar terjadi pada hari Kamis,” jelasnya.
Fenomena menarik lainnya terlihat dari sebaran wilayah pendaftar. Jika pada tahun-tahun sebelumnya mayoritas calon siswa berasal dari Kecamatan Singaparna dan wilayah sekitar seperti Sukarame, Leuwisari, serta Padakembang, kali ini pendaftar datang dari daerah yang jauh lebih beragam.
Menurut Dede, terdapat calon siswa dari Kecamatan Cipatujah dan Cikalong yang turut mencoba peruntungan masuk melalui program Sekolah Maung.
“Biasanya sangat jarang ada pendaftar dari Cipatujah maupun Cikalong. Kali ini ada yang mendaftar ke SMAN 1 Singaparna, padahal jarak dari wilayah tersebut ke Singaparna lebih dari 40 kilometer,” katanya.
Ia menilai tingginya minat masyarakat menunjukkan bahwa program Sekolah Maung berhasil menarik perhatian publik. Selain menawarkan jalur seleksi berbasis prestasi dan kemampuan akademik, program ini juga memberikan kesempatan lebih luas bagi calon siswa dari berbagai daerah untuk bersaing masuk sekolah negeri tanpa terikat sistem zonasi seperti pada jalur reguler.
Dengan jumlah pendaftar yang hampir dua kali lipat dari kuota yang tersedia, persaingan untuk menjadi bagian dari angkatan pertama Sekolah Maung di SMAN 1 Singaparna dipastikan berlangsung ketat.











