Opini  

Penyakit Hati yang Menghalangi Keberkahan

Ilustrasi

INILAHTASIK.COM | Kitab Tanbihul Ghafilin Halaman 178

قد قال بعض الحكماء قديماً: «أرْبَعُ مَنْ كُنَّ فِيهِ فَهُوَ مَحْرُومٌ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ المُتَطَاوِلُ عَلَى مَنْ تَحْتَهُ، وَالعَاقُ لِوَالِدَيْهِ، وَمَنْ يَحْقِرُ الفَقِيرَ، وَمَنْ يُعَيّرُ المَسَاكِينَ لِمَسْكَنَتِهِمْ

Kehidupan ini adalah sebuah perjalanan yang singkat namun penuh dengan ujian rasa. Seringkali, tanpa kita sadari, setitik debu kesombongan hinggap di pelupuk hati, menghalangi pandangan kita dari cahaya kebenaran. Kebaikan bukanlah sekadar tumpukan amal ibadah ritual, melainkan bagaimana hati kita bersikap terhadap sesama ciptaan Tuhan. Sebagian orang bijak terdahulu telah berkata bahwa ada empat perkara yang jika berada pada diri seseorang, maka ia terhalang dari seluruh kebaikan.

Pertama, Bahaya Kesombongan Terhadap Sesama

المُتَطَاوِلُ عَلَى مَنْ تَحْتَهُ

(Orang yang bertindak sewenang-wenang/angkuh terhadap orang di bawahnya)

Di dunia yang memuja strata sosial, jabatan, dan kekuasaan, manusia sering tergelincir pada perasaan “lebih”. Kita merasa bahwa mereka yang memiliki gaji lebih rendah, pendidikan yang kurang, atau jabatan yang di bawah kita adalah pribadi yang boleh diperlakukan semena-mena.

Padahal, jabatan hanyalah “pakaian” sementara. Saat pakaian itu dilepaskan, kita semua hanyalah hamba yang sama-sama berasal dari tanah. Sikap Mutathawil (menindas atau sombong) kepada bawahan atau orang yang lemah adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah kekuasaan yang Alloh berikan.

Ingatlah, doa orang yang tersakiti karena kesombonganmu adalah anak panah yg melesat tanpa penghalang menuju singgasana Tuhan. Jangan biarkan air mata orang lain menjadi penyebab kehancuranmu.

Kedua, Luka yang Tak Tersembuhkan adalah Kedurhakaan

العَاقُ لِوَالِدَيْهِ

(Anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya)

Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Namun, seringkali dalam kejayaan dan kesibukan, kita lupa pada tangan-tangan yang telah kasar karena bekerja demi sekolah kita, dan punggung yang telah bungkuk karena menggendong beban masa depan kita.

Durhaka bukan hanya tentang membentak, tetapi juga tentang pengabaian. Ketika seorang anak merasa dirinya sudah “menjadi seseorang” lalu memandang rendah orang tuanya yang sederhana. Maka ketahuilah bahwa ia telah menutup pintu kebaikan bagi dunia dan akhiratnya.

Tidak ada kesuksesan yang abadi tanpa ridha orang tua. Suatu saat nanti, kau akan merindukan suara yang kini mungkin kau anggap membosankan itu. Sayangilah mereka sebelum yang tersisa hanyalah nisan yang bisu.

Ketiga, Kekayaan Hati vs Kemiskinan Pandangan

وَمَنْ يَحْقِرُ الفَقِيرَ

(Orang yang merendahkan orang fakir)

Kemiskinan harta bukanlah sebuah kehinaan, namun merendahkan orang miskin adalah puncak dari kehinaan karakter. Banyak di antara kita yg memberikan sedekah namun dengan tatapan yang menghina, seolah-olah kita adalah pemilik rezeki, padahal kita hanyalah saluran titipan.

Menghina orang fakir berarti menghina Sang Pemberi Rezeki. Kita tidak pernah tahu, mungkin di balik pakaiannya yang lusuh dan tubuhnya yang ringkih, ia memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Alloh karena kesabarannya.

Jika Tuhan menghendaki, dalam sekejap keadaan bisa berbalik. Orang yang kau rendahkan hari ini bisa jadi adalah orang yang kau butuhkan bantuannya esok hari.

Keempat, Menghujat Nasib, Mencela Kemiskinan

وَمَنْ يُعَيِّرُ المَسَاكِينَ لِمَسْكَنَتِهِمْ

(Orang yang mencela orang miskin karena kemiskinannya)

Mencela adalah tindakan verbal yang menyakitkan. Mengejek orang karena mereka tidak memiliki rumah yang layak, pakaian yang bagus, atau makanan yang lezat. Ini adalah bentuk kesombongan intelektual dan spiritual. Kemiskinan seringkali bukan karena kemalasan, melainkan takdir ujian yang Alloh berikan untuk melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang peduli.

Kekayaan sesungguhnya adalah rasa cukup di dalam jiwa. Betapa banyak orang miskin yang tidurnya lebih nyenyak daripada mereka yang tidur di atas kasur sutra namun hatinya penuh dengan ketakutan dan dendam.

Mari kita bersihkan hati. Jadikan setiap pertemuan dengan manusia sebagai kesempatan untuk menanam benih kasih sayang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *