INILAHTASIK.COM | Forum Koordinasi (FK) Tagana Kabupaten Tasikmalaya kembali menggulirkan program Tagana Masuk Sekolah (TMS) sebagai bagian dari kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Program ini digelar di SMP Negeri 1 Singaparna dan SMP Negeri 2 Singaparna pada Selasa 14 Juli 2026, kemudian dilanjutkan di SMK Islam Tenjonagara pada Rabu 15 Juli 2026.
Melalui program tersebut, ratusan peserta didik baru mendapatkan pembekalan mengenai kesiapsiagaan bencana, mitigasi, hingga budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai bekal dalam menjalani aktivitas belajar di sekolah maupun saat memasuki dunia kerja.
Di SMPN 1 dan SMPN 2 Singaparna, anggota Tagana memberikan edukasi mengenai berbagai potensi bencana yang ada di lingkungan sekitar, langkah-langkah mitigasi, serta tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Penyampaian materi dikemas secara interaktif sehingga para siswa tampak antusias mengikuti setiap sesi.
Sementara di SMK Islam Tenjonagara, materi difokuskan pada pentingnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Para siswa dikenalkan dengan prinsip dasar K3, potensi bahaya di lingkungan sekolah dan tempat kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), hingga pentingnya membangun budaya disiplin dalam menjaga keselamatan.
Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan Program Tagana Masuk Sekolah merupakan upaya membangun budaya sadar bencana dan keselamatan sejak dini di kalangan pelajar.
“Kami ingin para peserta didik tidak hanya memahami materi di kelas, tetapi juga memiliki kemampuan menghadapi situasi darurat. Edukasi kebencanaan dan keselamatan harus ditanamkan sejak dini agar lahir generasi yang tangguh dan siap menghadapi berbagai risiko bencana,” ujar Jembar.
Menurutnya, sekolah menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kesiapsiagaan karena para pelajar dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Harapan kami, setelah mengikuti kegiatan ini para siswa mampu menjadi pelopor keselamatan, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan sekitarnya. Mereka juga diharapkan mampu menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh kepada teman dan keluarganya,” katanya.
Khusus di SMK Islam Tenjonagara, Jembar menilai pemahaman mengenai K3 sangat penting mengingat para siswa nantinya akan menjalani praktik kerja di dunia industri.
“Budaya K3 bukan hanya dibutuhkan di dunia kerja, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami prinsip-prinsip keselamatan sejak sekolah, para siswa akan lebih siap memasuki dunia kerja dan mampu meminimalkan risiko kecelakaan,” tambahnya.
Melalui Program Tagana Masuk Sekolah, Jembar menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mendukung pendidikan kebencanaan dan membangun budaya keselamatan di lingkungan pendidikan sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi yang tangguh, peduli, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.











