INILAHTASIK.COM | Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Tasikmalaya berencana menggelar seminar bertajuk “Peran Musisi Tradisi Dan Modern Dalam meningkatkan Ekonomi Kreatif Tasikmalaya” dalam rangka memperingati World Art Day atau Hari Seni Sedunia 2026.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 15 April 2026, mulai pukul 12.30 hingga 16.00 WIB, di Gedung Creative Center (GCC) Dadaha, Kota Tasikmalaya, dengan melibatkan sekitar 150 peserta dari kalangan pelaku seni tradisi maupun modern se-Kota Tasikmalaya.
Seminar ini digagas Damas Tasikmalaya bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni sekaligus mendorong pengembangan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Ketua Damas Tasikmalaya, Pepi M. Subagya, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mendorong para seniman agar tidak hanya fokus pada proses berkarya, tetapi juga mampu mengelola potensi ekonomi dari karya seni yang mereka hasilkan.
Menurut Pepi, perkembangan ekonomi kreatif menuntut para pelaku seni untuk memiliki kemampuan tambahan, termasuk dalam hal manajemen usaha, pemasaran karya, hingga pemanfaatan teknologi digital.
“Selama ini banyak seniman yang memiliki karya luar biasa, tetapi belum sepenuhnya mampu mengoptimalkan potensi ekonominya. Melalui seminar ini kami ingin mendorong transformasi pola pikir, agar para pelaku seni juga mampu menjadi entrepreneur di sektor kreatif,” ujar Pepi dalam keterangannya, Selasa (8/4/2026).
Ia menegaskan bahwa peringatan Hari Seni Sedunia tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan peran seni dalam kehidupan masyarakat.
“World Art Day adalah momentum untuk merayakan seni sebagai bagian penting dari peradaban manusia. Seni tidak hanya membangun identitas budaya, tetapi juga memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi kreatif,” kata Pepi.
Pepi berharap kegiatan ini dapat membuka ruang dialog dan kolaborasi antara komunitas seni, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan industri kreatif di Tasikmalaya.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis pelaku seni di Tasikmalaya dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru yang berbasis budaya lokal,” ujarnya.
Hadirkan Sejumlah Narasumber
Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari seniman, praktisi seni, hingga pejabat pemerintah daerah.
Beberapa narasumber yang dijadwalkan hadir di antaranya seniman Ega Robot, seniman Iik Setiawan, serta Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Tasikmalaya Dedi Mulyana.
Para narasumber tersebut akan membahas berbagai aspek terkait pengembangan seni dan ekonomi kreatif, mulai dari peluang usaha di sektor kreatif, penguatan identitas seni lokal, hingga dukungan kebijakan pemerintah daerah terhadap pelaku seni.
Selain seminar, rangkaian kegiatan juga akan diawali dengan penampilan kreasi seni tari dan rampak kendang yang melibatkan komunitas seni lokal sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya daerah.
Edukasi Cinta Rupiah
Menariknya, dalam kegiatan tersebut juga akan digelar sosialisasi edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah yang akan disampaikan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya.
Program edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya para pelaku seni dan ekonomi kreatif, mengenai pentingnya penggunaan rupiah serta peran mata uang nasional dalam mendukung stabilitas ekonomi.
Pepi menilai keterlibatan Bank Indonesia dalam kegiatan tersebut menjadi nilai tambah, karena dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada para pelaku seni terkait literasi ekonomi dan keuangan.
“Kami berharap peserta tidak hanya mendapatkan wawasan tentang pengembangan seni, tetapi juga pemahaman yang lebih baik mengenai literasi ekonomi dan keuangan, sehingga mampu mengelola usaha kreatif secara lebih profesional,” kata Pepi.
Dorong Seni Jadi Penggerak Ekonomi
Menurut Pepi, Tasikmalaya memiliki potensi besar dalam sektor seni dan budaya, mulai dari seni tradisi hingga seni modern yang terus berkembang di kalangan generasi muda.
Namun, potensi tersebut perlu didukung dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia, akses pasar, serta kolaborasi lintas sektor agar dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para pelaku seni.
“Ke depan kami ingin seni tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Ketika seni mampu berkembang menjadi sektor usaha yang kuat, maka kesejahteraan para pelaku seni juga akan meningkat,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seminar ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem seni dan ekonomi kreatif yang lebih kuat di Kota Tasikmalaya.











