INILAHTASIK.COM | Suatu hari, Hasan Al-Bashri duduk tenang di depan rumahnya. Tiba-tiba sebuah jenazah melintas di hadapannya. Orang-orang berjalan mengiringinya dengan wajah duka.
Namun ada satu pemandangan yang begitu menggetarkan hati, seorang anak perempuan kecil berjalan di bawah usungan jenazah itu. Rambutnya terurai, langkahnya gontai, dan tangisnya pecah tanpa henti.
Dengan suara pilu, ia merintih, “Wahai ayahku hari ini adalah hari paling berat dalam hidupku”
Mendengar itu, Hasan Al-Bashri bangkit. la ikut mengiringi jenazah tersebut. Lalu dengan lembut ia berkata kepada anak itu, “Begitu pula ayahmu hari ini adalah hari yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.”
Jenazah itu dimakamkan. Hasan Al-Bashri pun pulang.
Namun kisah itu belum selesai. Keesokan harinya, setelah shalat Subuh dan matahari mulai meninggi, Hasan Al-Bashri kembali duduk di tempat yang sama. Tiba-tiba ia melihat anak perempuan itu lagi.
la berjalan sendirian sambil menangis menuju kuburan ayahnya.
Hati Hasan tergerak. la berpikir, “Anak ini memiliki hati yang dalam. Mungkin dari lisannya akan keluar pelajaran yang berharga.”
la pun diam-diam mengikuti dari belakang. Sesampainya di kuburan, Hasan bersembunyi di balik pohon. la melihat anak itu mendekap kubur ayahnya meletakkan pipinya di tanah lalu berbicara dengan suara yang hancur oleh tangis:
“Wahai ayahku bagaimana keadaanmu di dalam kubur yang gelap? Sendirian, tanpa lampu, tanpa siapa pun menemani”
Tangisnya semakin dalam.
“Kemarin aku yang menyalakan lampu untukmu sekarang siapa yang menerangimu, wahai ayahku?”
“Kemarin aku yang menghamparkan tempat untukmu siapa yang menghamparkan untukmu sekarang?”
“Kemarin aku yang memijat tangan dan kakimu siapa yang merawatmu sekarang?”
“Kemarin aku yang memberimu minum siapa yang memberimu minum malam tadi?”
“Kemarin aku yang membolak-balik tubuhmu siapa yang menjagamu sekarang?”
“Kemarin aku yang menutup tubuhmu siapa yang menutupmu kini?”
“Kemarin aku yang menatap wajahmu siapa yang melihatmu sekarang?”
“Kemarin engkau memanggilku dan aku menjawabmu sekarang siapa yang engkau panggil dan siapa yang menjawabmu?”
“Kemarin aku yang memberimu makan, tadi malam siapa yang memberimu makan, wahai ayahku?”
Setiap kalimatnya seperti pisau yang mengiris hati.
Di balik pohon, Hasan Al-Bashri tak mampu menahan tangisnya. la pun keluar dari persembunyiannya, menghampiri anak itu dengan penuh kasih, lalu berkata lembut:
“Wahai anak kecil janganlah engkau berkata seperti itu”
“Katakanlah begini, Wahai ayahku dahulu aku menghadapkanmu ke arah kiblat, apakah engkau masih dalam keadaan itu sekarang ataukah telah berubah?”
“Aku mengkafanimu dengan sebaik-baiknya apakah kafan itu masih melekat padamu atau telah terlepas?”
“Aku menguburkanmu dalam keadaan utuh apakah tubuhmu masih utuh atau telah dimakan tanah dan ulat?”
“Wahai ayahku para ulama mengatakan, setiap manusia akan ditanya tentang imannya apakah engkau mampu menjawab ataukah engkau terdiam tak berdaya?”
“Para ulama berkata, ada kubur yang dilapangkan dan ada yang disempitkan bagaimana keadaan kuburmu sekarang?”
“Sebagian kafan diganti dengan kafan dari surga dan sebagian dengan kafan dari neraka yang manakah untukmu, wahai ayahku?”
“Kubur bisa menjadi taman dari taman surga atau jurang dari neraka di manakah engkau berada?”
“Kubur bisa memeluk dengan kasih sayang atau menghimpit hingga tulang remuk bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Setiap orang di dalam kubur pasti menyesal, yang shalih menyesal karena kurang amal, yang berdosa menyesal karena banyak maksiat penyesalan mana yang engkau rasakan?”
Hasan terdiam sejenak lalu berkata dengan suara lirih:
“Wahai ayahku aku memanggilmu tetapi engkau tak lagi menjawab dan kita tidak akan bertemu lagi hingga hari kiamat”
“Wahai Hasan betapa indah kata-katamu betapa dalam nasihatmu engkau telah membangunkanku dari kelalaian”
Akhirnya, anak itu pulang bersama Hasan Al-Bashri keduanya berjalan dalam tangis.
Satu kehilangan yang berubah menjadi pelajaran tentang kematian dan kehidupan setelahnya.











