INILAHTASIK.COM | Sebagian orang bijak berkata: “Ciri orang yang ma’rifat (mengenal Allah) itu ada enam perkara.”
Pertama, Ketika mengingat Allah, ia merasa mulia
إِذَا ذَكَرَ اللَّهَ افْتَخَرَ
Maksudnya, ia merasa bangga dan mulia bukan karena dirinya, tetapi karena diberi nikmat bisa mengingat Allah. Orang yang dekat dengan Allah merasa kehormatan terbesar bukan pada harta, jabatan, atau pujian manusia, melainkan pada kedekatannya dengan Rabb-nya.
Kedua, ketika mengingat dirinya, ia merasa hina
وَإِذَا ذَكَرَ نَفْسَهُ احْتَقَرَ
la sadar bahwa dirinya penuh kekurangan, kelemahan, dan dosa. Ini adalah tanda tawadhu’ (rendah hati). Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar betapa kecil dirinya. la tidak mudah sombong, tidak merasa paling benar, dan tidak meremehkan orang lain.
Ketiga, ketika melihat ayat-ayat Allah, ia mengambil pelajaran (dengan permenungan)
وَإِذَا نَظَرَ فِي آيَاتِ اللَّهِ اعْتَبَرَ
Ayat Allah bukan hanya Al-Qur’an, tetapi juga tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta. Langit, bumi, kehidupan, kematian, pergantian siang dan malam.
Semua itu membuatnya semakin yakin kepada Allah dan mengambil ibrah (pelajaran). Misalnya, melihat orang sakit membuatnya ingat nikmat sehat, melihat kematian membuatnya ingat akhirat.
Keempat, ketika terlintas maksiat atau syahwat, ia menahan diri
وَإِذَا هَمَّ بِمَعْصِيَةِ أَوْ شَهْوَةِ انْزَجَرَ
Ini adalah tanda Mujahadah An-nafs (melawan hawa nafsu). Bukan berarti ia tidak punya godaan, tetapi ketika godaan datang, ia segera mengingat Allah lalu mundur dari dosa.
Orang saleh bukan yang tidak pernah diuji, tetapi yang mampu menahan dirinya saat diuji.
Kelima, ketika mengingat ampunan Allah, ia bergembira
وَإِذَا ذَكَرَ عَفْوَ اللَّهِ اسْتَبْشَرَ
la selalu punya harapan kepada rahmat Allah. Sebesar apa pun dosa, ia yakin pintu taubat masih terbuka. Ini menumbuhkan roja’ (harap) kepada Allah dan menjauhkan diri dari putus asa.
Keenam, ketika mengingat dosanya, ia beristighfar
وَإِذَا ذَكَرَ ذُنُوبَهُ اسْتَغْفَرَ
la tidak melupakan dosa masa lalu. Bukan untuk tenggelam dalam kesedihan, tetapi agar terus memperbaiki diri dan memohon ampun. Semakin mengenal Allah, maka semakin sering lisannya mengucapkan
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
“Aku memohon ampun kepada Allah.”











