Opini  

Bebegig Sukamantri dan Tantangan Merawat Kearifan Lokal di Era Digital

INILAHTASIK.COM | Di tengah derasnya arus modernisasi dan transformasi digital, banyak warisan budaya lokal menghadapi ancaman yang sama: terlupakan oleh generasi penerusnya.

Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terdapat sebuah warisan budaya takbenda yang sesungguhnya menyimpan pesan penting bagi masa depan lingkungan dan peradaban manusia, yakni Bebegig Sukamantri.

Bagi sebagian orang, Bebegig mungkin hanya dikenal sebagai kesenian topeng berwajah menyeramkan yang tampil dalam berbagai festival budaya. Namun di balik mata melotot, taring tajam, dan wajah garangnya, tersimpan filosofi mendalam tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Bebegig bukan sekadar pertunjukan seni tradisional, melainkan simbol penjaga keseimbangan ekologis yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Sukamantri.

Tradisi ini berakar dari kisah Prabu Sampulur yang menugaskan Sancangmanik dan Sancangronggeng untuk menjaga Leuweung Larangan atau hutan lindung dari berbagai bentuk perusakan. Dalam pandangan masyarakat setempat, hutan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan ruang kehidupan yang harus dihormati dan dijaga keberlanjutannya. Dari filosofi itulah lahir sosok Bebegig sebagai simbol kewaspadaan dan penjaga tatanan alam.

Makna ekologis yang terkandung dalam Bebegig justru semakin relevan ketika dunia menghadapi berbagai krisis lingkungan, mulai dari deforestasi, perubahan iklim, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.

Di saat berbagai negara berlomba merumuskan strategi pembangunan berkelanjutan, masyarakat Sukamantri sesungguhnya telah mewariskan konsep pelestarian lingkungan melalui budaya sejak ratusan tahun lalu.

Sayangnya, nilai-nilai luhur tersebut belum sepenuhnya mampu menjangkau generasi muda. Selama ini, upaya pelestarian Bebegig masih banyak bertumpu pada pertunjukan budaya, festival tahunan, dan penjelasan verbal dari para pelaku seni.

Cara-cara tersebut memang penting untuk mempertahankan tradisi, tetapi belum cukup efektif untuk menjawab pola konsumsi informasi generasi Z dan generasi Alfa yang tumbuh dalam ekosistem digital.

Tantangan inilah yang perlu menjadi perhatian bersama. Pelestarian budaya tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan konvensional. Jika warisan budaya ingin tetap hidup, maka ia harus mampu hadir di ruang yang sama dengan generasi penerusnya. Budaya harus mampu berdialog dengan teknologi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai dasarnya.

Hasil observasi dan dialog dengan para pelaku budaya Bebegig menunjukkan kebutuhan mendesak akan media edukasi yang lebih adaptif.

Pembina Sanggar Bebegig Sukamantri, Cucu Panji Suherman, menegaskan bahwa esensi utama Bebegig adalah menanamkan kesadaran untuk menjaga alam.

“Bebegig itu ibarat penjaga, tidak hanya di hutan, tetapi juga di hati masyarakat. Siapa yang merusak hutan, mereka merusak masa depan desa,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Bebegig sejatinya merupakan media pendidikan lingkungan yang lahir dari kearifan lokal. Nilai yang dibawanya sangat sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek komunitas berkelanjutan dan perlindungan ekosistem daratan.

Karena itu, transformasi narasi Bebegig ke dalam media digital menjadi langkah yang patut dipertimbangkan. Salah satu bentuk yang potensial adalah film animasi edukatif.

Animasi memiliki kemampuan untuk menerjemahkan cerita, simbol, dan filosofi budaya menjadi pengalaman belajar yang menarik, mudah dipahami, serta sesuai dengan karakter generasi digital.

Melalui film animasi, kisah Prabu Sampulur, Sancangmanik, dan Sancangronggeng dapat divisualisasikan secara lebih hidup. Penonton dapat memahami konsep pembagian kawasan hutan yang selama ini menjadi bagian penting dari kearifan masyarakat Sukamantri, mulai dari Leuweung Larangan sebagai kawasan yang harus dijaga, Leuweung Tutupan yang berfungsi melindungi ekosistem, hingga Leuweung Garapan yang dimanfaatkan secara bijaksana untuk kebutuhan masyarakat.

Tidak hanya itu, animasi juga dapat memperkenalkan makna simbolik berbagai atribut Bebegig yang selama ini jarang diketahui publik. Daun waregu yang melambangkan nilai “panca warna” dan dikaitkan dengan lima rukun Islam.

Daun bubuay yang mencerminkan semangat persatuan, gotong royong, serta filosofi silih asah, silih asih, dan silih asuh. Sementara busana dari injuk pohon kawung mengandung konsep ngabadan kawung, yakni ajaran agar manusia memberikan manfaat bagi sesama sebagaimana seluruh bagian pohon kawung yang berguna bagi kehidupan.

Pendekatan digital semacam ini bukan berarti menghilangkan kesakralan atau mengkomersialisasikan budaya secara berlebihan. Sebaliknya, digitalisasi dapat menjadi instrumen pelestarian yang efektif ketika dilakukan dengan tetap menghormati pakem, nilai, dan otoritas para pelaku budaya. Teknologi seharusnya dipandang sebagai jembatan, bukan ancaman.

Di era ketika anak-anak lebih akrab dengan layar gawai dibandingkan cerita rakyat di lingkungan sekitarnya, pelestarian budaya memerlukan strategi baru yang kreatif dan relevan.

Budaya yang gagal beradaptasi berisiko kehilangan ruang hidupnya. Sebaliknya, budaya yang mampu memanfaatkan teknologi akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

Bebegig Sukamantri memberikan pelajaran penting bahwa kearifan lokal bukanlah peninggalan masa lalu yang usang. Ia adalah sumber pengetahuan yang dapat menjawab tantangan masa kini, termasuk dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Tugas generasi sekarang bukan hanya melestarikannya sebagai artefak budaya, melainkan memastikan nilai-nilai yang dikandungnya tetap dipahami, diwariskan, dan dihidupkan dalam berbagai bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada akhirnya, masa depan Bebegig tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering ia tampil dalam festival budaya, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menghadirkan pesan-pesan luhurnya ke ruang digital.

Sebab ketika budaya mampu bertransformasi tanpa kehilangan jati dirinya, di situlah keberlanjutan menemukan maknanya yang sesungguhnya.

Oleh: Arni Apriani

 Program Studi Pendidikan Seni, Sekolah Pascasarjana,

Universitas Pendidikan Indonesia 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *