INILAHTASIK.COM | Meningkatnya kasus penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes mellitus menjadi perhatian serius kalangan akademisi dan tenaga kesehatan. Berangkat dari temuan lapangan yang menunjukkan masih adanya warga dengan faktor risiko maupun riwayat kedua penyakit tersebut, mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) menggelar penyuluhan kesehatan di Madrasah Al Ikhlas Cicantel RW 07, Kelurahan Mulyasari, Kecamatan Tamansari, Sabtu 13 Juni 2026.
Kegiatan yang merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat itu terselenggara melalui kolaborasi antara mahasiswa D3 Keperawatan UMTAS, Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Tasikmalaya, dan Puskesmas Tamansari, dengan tema “Edukasi Penyakit Hipertensi dan Diabetes Mellitus: Kenali, Cegah, dan Kendalikan untuk Hidup Sehat”.
Tema tersebut dipilih setelah mahasiswa melakukan pendataan kesehatan warga dan menemukan masih tingginya potensi risiko penyakit tidak menular di lingkungan tersebut.
Dalam kegiatan itu, warga diberikan pemahaman mengenai penyebab, gejala, faktor risiko, hingga langkah pencegahan hipertensi dan diabetes mellitus. Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi sesi tanya jawab interaktif yang membahas pola makan sehat, pentingnya aktivitas fisik, pemeriksaan kesehatan berkala, serta kepatuhan menjalani pengobatan bagi penderita.
Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMTAS, Sri Wahyuni, M.Keb, menegaskan bahwa hipertensi dan diabetes masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang sering kali tidak disadari karena gejalanya muncul secara perlahan.
“Hipertensi dan diabetes mellitus sering disebut sebagai silent killer. Banyak masyarakat yang merasa sehat, padahal tekanan darah atau kadar gula darahnya sudah berada di atas batas normal. Karena itu edukasi dan deteksi dini menjadi sangat penting agar komplikasi yang lebih berat dapat dicegah,” ujarnya.

Menurut Sri Wahyuni, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat tidak hanya menjadi sarana pembelajaran akademik, tetapi juga bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga mampu hadir di tengah masyarakat, mengidentifikasi masalah kesehatan, dan memberikan solusi melalui edukasi yang tepat. Harapannya masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kesehatan harus dimulai sebelum sakit, bukan setelah muncul komplikasi,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan pola hidup modern menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya kasus hipertensi dan diabetes di berbagai daerah.
“Pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak, ditambah kurangnya aktivitas fisik, menjadi faktor risiko yang harus mendapat perhatian bersama. Upaya pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Kelurahan Mulyasari, Muhaemin, S.IP, menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai membantu meningkatkan kesadaran kesehatan warga.
“Kami mengapresiasi kehadiran mahasiswa dan seluruh pihak yang terlibat. Edukasi seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat agar warga memahami pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan secara rutin,” ujarnya.
Ketua RW 07 Mulyasari, Cecep Rahmat, berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan karena masih banyak warga yang membutuhkan informasi mengenai pencegahan penyakit tidak menular.
“Kadang masyarakat baru memeriksakan diri ketika sudah merasa sakit. Melalui kegiatan ini kami berharap warga lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya sejak dini,” katanya.
Selain dihadiri perangkat kelurahan dan tokoh masyarakat, kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua Majelis Kesehatan PDA Kota Tasikmalaya Ida Rosidawati, M.Kep, pembimbing lapangan dari Puskesmas Tamansari, dosen pembimbing Program D3 Keperawatan UMTAS, para ketua RT, kader kesehatan RW 07, serta warga setempat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa dan tenaga kesehatan berharap masyarakat tidak hanya memahami bahaya hipertensi dan diabetes mellitus, tetapi juga mampu menerapkan perilaku hidup sehat secara konsisten.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan angka penyakit tidak menular yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama menurunnya kualitas hidup masyarakat.











