INILAHTASIK.COM | Kasus dugaan bunuh diri kembali terjadi di wilayah Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Peristiwa ini terjadi hanya berselang sekitar 12 jam setelah ditemukannya seorang pria yang meninggal akibat gantung diri di kawasan perkebunan karet Desa Pameutingan.
Kali ini, seorang pemuda bernama Deris (25), warga Kampung Cisaat, Desa Sindangkerta, ditemukan meninggal dunia di belakang rumahnya pada Rabu 10 Juni 2026, sekitar pukul 04.30 WIB.
Kapolsek Cipatujah Ipda Agus Kasdili mengatakan, sebelum ditemukan meninggal, korban sempat berpamitan kepada rekannya setelah bermain bersama.
“Menurut keterangan saksi, sekitar pukul 02.30 WIB korban mengatakan akan pulang ke rumahnya,” ujar Agus.
Namun tidak lama kemudian, saksi bernama Rijal merasa curiga setelah melihat status WhatsApp korban yang berisi pesan perpisahan.
“Saksi melihat status WhatsApp korban yang bertuliskan, ‘Mohon maaf ke semuanya, sampai jumpa di akhirat‘,” kata Agus.
Merasa khawatir, Rijal kemudian mengajak ibunya, Dede Cahyati, untuk mendatangi rumah korban. Saat tiba di lokasi, korban tidak berada di dalam rumah sehingga keduanya berinisiatif mencari ke area belakang rumah.
Saat pencarian dilakukan, korban ditemukan sudah tergeletak di bawah pohon nangka dalam kondisi tidak bernyawa.
“Ketika sampai di belakang rumah, saksi melihat korban sudah berada di bawah pohon nangka dengan posisi tertelungkup,” ungkap Kapolsek.
Temuan tersebut membuat saksi berteriak meminta pertolongan hingga warga sekitar berdatangan ke lokasi. Anggota Polsek Cipatujah yang menerima laporan kemudian langsung melakukan pengecekan bersama petugas kesehatan dari Puskesmas Cipatujah.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban diduga meninggal akibat gantung diri. Petugas menemukan kaos yang dibentuk menyerupai tali masih melilit leher korban. Selain itu, terdapat dahan pohon nangka yang patah namun masih terikat dengan kain yang digunakan korban.
“Dari hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Korban diduga meninggal akibat gantung diri,” jelas Agus.
Pihak kepolisian menduga korban mengalami tekanan psikologis yang berkaitan dengan persoalan ekonomi yang sedang dihadapinya.
“Kami memperoleh informasi bahwa korban diduga mengalami depresi akibat permasalahan ekonomi,” katanya.
Setelah proses identifikasi dan pemeriksaan selesai dilakukan, jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Keluarga korban juga menyatakan menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah.
Peristiwa ini menambah daftar kasus bunuh diri yang terjadi di wilayah Cipatujah dalam waktu berdekatan, sehingga menjadi perhatian serius bagi masyarakat maupun pihak terkait mengenai pentingnya kepedulian terhadap kesehatan mental dan kondisi sosial warga.











