Lewat Seminar Nasional, UMTAS Dorong Sinergi AI dan Budaya Lokal untuk Hadapi Era Digital

INILAHTASIK.COM — Kemajuan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi keberlangsungan budaya lokal. Sebaliknya, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat upaya pelestarian, dokumentasi, hingga pengembangan berbagai warisan budaya agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Sendratasik bertema Transformasi Pembelajaran Seni di Era Artificial Intelligence yang berlangsung di Graha Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS), Senin (15/6/2026). Forum akademik itu mempertemukan sejumlah praktisi, akademisi, dan pemerhati seni untuk membahas relasi antara teknologi modern dan keberlanjutan budaya.

Rektor UMTAS, Neni Nuraeni, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa tercerabut dari identitas budayanya. Menurut dia, kecanggihan teknologi dan kekuatan budaya merupakan dua elemen yang saling melengkapi.

“Teknologi adalah instrumen untuk memperluas pengetahuan dan kreativitas, sedangkan budaya merupakan fondasi nilai yang membentuk karakter bangsa. Keduanya harus berjalan beriringan,” ujar Neni.

Ia menambahkan, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang mendorong lahirnya riset, pengabdian masyarakat, dan inovasi lintas disiplin. Melalui pendekatan tersebut, berbagai kekayaan budaya dapat terdokumentasikan dengan baik sekaligus dikembangkan agar lebih dekat dengan generasi muda.

Pandangan serupa disampaikan Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Retno Dwimarwati. Dalam kesempatan itu, ia memaparkan proyek pertunjukan teater kolosal bertajuk Niskala Gudha: Siti Samboja, sebuah karya yang memadukan unsur seni tradisional Pangandaran dengan teknologi pertunjukan modern.

Retno menjelaskan, gagasan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap semakin menyempitnya ruang ekspresi bagi kesenian tradisional di tengah arus perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang berlangsung cepat. Karena itu, pendekatan baru diperlukan agar seni tradisi tetap hidup dan mampu menjangkau masyarakat luas.

Menurutnya, Niskala Gudha dirancang sebagai bentuk revitalisasi budaya yang menggabungkan teater, ronggeng, wayang, musik tradisional, tata cahaya modern, hingga multimedia dalam satu kesatuan pertunjukan. Melalui konsep tersebut, hasil penelitian dan kajian budaya tidak hanya berhenti dalam bentuk akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi pengalaman artistik yang mudah dipahami publik.

“Niskala Gudha berupaya mengubah kajian budaya menjadi pengalaman artistik yang hidup, sekaligus menghadirkan ruang perjumpaan antara tradisi dan inovasi,” kata Retno.

Tokoh Siti Samboja dihadirkan sebagai simbol perjalanan budaya yang bergerak antara dunia nyata dan dunia niskala. Dengan memanfaatkan pendekatan etnografi dan riset berbasis praktik, berbagai nilai budaya lokal diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan yang komunikatif dan edukatif.

Retno menilai, pertunjukan seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga dapat menjadi media pewarisan pengetahuan budaya kepada generasi muda. Karena itu, pemanfaatan teknologi dalam proses kreatif justru membuka peluang baru bagi pelestarian tradisi.

Selain menghadirkan Retno, seminar tersebut juga menghadirkan Wakil Ketua MKKS Kabupaten Tasikmalaya Ceceng Kosasih serta dosen seni rupa Universitas Negeri Makassar, Ike Ratnawati. Para narasumber membahas berbagai tantangan dan peluang yang muncul seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan seni.

Dari diskusi yang berlangsung, para peserta sepakat bahwa teknologi tidak harus ditempatkan sebagai lawan budaya. Dengan pemanfaatan yang tepat, kecerdasan buatan justru dapat menjadi instrumen baru untuk memperkuat dokumentasi, pembelajaran, dan pengembangan seni budaya lokal sehingga tetap lestari di tengah derasnya transformasi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *