INILAHTASIK.COM | Dugaan kasus kekerasan terhadap anak terjadi di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Tasikmalaya. Seorang siswa yang kini duduk di bangku kelas 3 SD harus menjalani operasi setelah diduga menjadi korban pemukulan oleh teman sekelasnya saat masih kelas 2.
Kasus tersebut kini ditangani Satreskrim Polres Tasikmalaya setelah orang tua korban resmi melaporkan peristiwa yang dialami anaknya. Laporan baru disampaikan karena keluarga lebih dulu memprioritaskan proses pengobatan dan pemulihan kondisi korban.
Ibu korban, Erni Trisnayanti, mengaku tak kuasa menahan kesedihan saat menceritakan kondisi anaknya. Menurutnya, korban sempat beberapa kali menjalani pemeriksaan medis hingga akhirnya dirujuk untuk menjalani operasi di RS Margono Soekarjo, Purwokerto, Jawa Tengah.
“Saya baru melaporkan kejadian ini ke Polres Tasikmalaya karena selama ini fokus mendampingi proses penyembuhan anak saya. Dugaan akibat pemukulan itu, anak saya sampai harus menjalani operasi,” ujar Erni, Kamis 30 Juli 2026.
Erni menjelaskan, insiden itu terjadi ketika sekolah sedang menggelar persiapan pentas seni akhir tahun. Saat itu korban sedang bermain di lingkungan sekolah sebelum diduga mendapat pukulan dari teman sekelasnya.
“Kejadiannya saat persiapan pentas seni. Anak saya dipukul. Waktu itu saya juga sedang berada di sekolah dan sempat menghampiri anak saya,” tuturnya.
Pascaoperasi, kondisi korban disebut mulai berangsur membaik. Meski demikian, selain masih menjalani pemulihan fisik, korban juga mengalami trauma akibat peristiwa tersebut.
“Alhamdulillah kondisinya mulai membaik setelah operasi. Saya berharap laporan ini bisa memberikan keadilan untuk anak saya,” katanya.
Sementara itu, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tasikmalaya, Aiptu Josner Ringgo, membenarkan pihaknya telah menerima laporan dan tengah melakukan penyelidikan.
“Benar, kasus ini sudah kami tangani. Karena korban maupun terduga pelaku sama-sama masih berusia di bawah 12 tahun, maka penanganannya dilakukan sesuai ketentuan dalam KUHP yang baru,” kata Josner.
Menurutnya, penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara serta memeriksa sejumlah saksi, termasuk korban dan pihak keluarga. Polisi juga masih mendalami kronologi, motif kejadian, hingga kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam pengawasan di lingkungan sekolah.
“Sejumlah saksi sudah kami mintai keterangan. Penanganan perkara ini dilakukan secara profesional sesuai prosedur yang berlaku,” tegasnya.











