Opini  

Maraknya Begal Mengintai Rakyat, Saatnya Kembali pada Syariat

Ilustrasi Net

INILAHTASIK.COM | Akhir-akhir ini masyarakat Karawang dibuat resah dengan berulangnya aksi pencurian motor (curanmor) dan begal. Di beberapa perumahan pelaku curanmor hampir setiap hari beraksi. Salah satunya di Perum Griya Kondang Asri, dan Citra Kebun Mas, aksi curanmor masif terjadi dan mengganggu rasa aman warga.

Selain curanmor, warga Karawang pun dibuat resah dengan aksi-aksi pembegalan di beberapa tempat. Mengutip dari Infokarawang, dalam seminggu saja tercatat beberapa aksi begal. Di Margasari, Karawang Timur, pembegalan terjadi pada karyawan pabrik pukul 03.20 WIB (25/9), di Cilewo, Telagasari, terjadi pukul 00.00 WIB pada karyawan pabrik juga (29/9), di totoang Kampung Sawah, pembegalan menimpa seorang ibu pukul 05.00 WIB (29/9), di Purwasari, begal menyasar karyawan pabrik lagi, terjadi pukul 20.00 WIB (1/10).

Dari pemberitaan, pelaku mengancam korban menggunakan senjata tajam berupa celurit. Dengan sajam tersebut pelaku menyasar motor dan sejumlah uang milik korban. Beberapa korban bahkan mengalami luka dikarenakan melakukan perlawanan saat berusaha mempertahankan harta miliknya.

Fakta di atas hanyalah sebagian kecil dari kasus pembegalan yang terekspos media. Di luar sana, masih banyak kasus serupa yang tidak tercium oleh media. Hal ini menandakan bahwa hari ini angka kejahatan sangat tinggi, bukan hanya di Karawang tetapi di wilayah lain di negeri ini.

Kapitalisme menjadikan satu-satunya tujuan hidup adalah tercapainya kebahagiaan jasadiyah dan kesuksesan materi. Hal ini berhasil membuat manusia berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan memiliki sesuatu yang diinginkan dengan cara apapun. Sementara sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan telah menjadikan iman mereka lemah. Mereka rela melakukan apapun demi tercapainya tujuan hidup, tanpa mempedulikan lagi halal haram yang seharusnya menjadi landasan perbuatan seorang muslim.

Kemudian, penerapan ekonomi hari ini mengakibatkan sumber daya alam seperti tambang, minyak bumi, air, hutan, banyak dikelola swasta dan asing. Sehingga, meskipun kekayaan alam negeri melimpah, tetap saja angka kemiskinan tinggi. Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin. Susahnya lapangan pekerjaan melahirkan angka pengangguran semakin besar. Sementara, rakyat dihadapkan dengan biaya hidup yang semakin tinggi, pendidikan dan kesehatan mahal, kebutuhan pangan serba naik. Belum lagi beban pajak diberbagai aspek semakin memperburuk perekonomian masyarakat.

Alhasil, desakan ekonomi ditambah lemahnya iman melahirkan individu yang nekat berbuat kejahatan, termasuk aksi begal.

Persoalan begal dan kejahatan lainnya yang semakin mengintai rakyat tak akan bisa dituntaskan dengan paradigma hari ini, kapitalisme sekuler. Karena solusi yang ditawarkan terkadang tak menyentuh akar persoalan. Persoalan pun akan terus muncul, bahkan lebih masif.

Lain halnya ketika paradigma IsIam menjadi solusi dari permasalahan ini. Islam akan memberi solusi dengan menarik akar masalah.

Misalnya masifnya aksi kejahatan dan begal yang muncul dari kekacauan sistem ekonomi, maka negara dalam IsIam bertanggungjawab melakukan pendistribusian kekayaan secara merata di masyarakat, menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar, menyediakan lapangan pekerjaan yang layak. Sehingga aksi kejahatan yang dilandasi ekonomi dapat dihindari.

Rosulullah saw. bersabda:

“Imam (pemimpin) adalah roo’in (pengurus) urusan rakyat, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya” (HR. Bukhari & Muslim)

Selain itu, pelaku akan diberi sanksi tegas oleh negara. Pelaku begal tak akan diberi ruang yang cukup untuk aksinya. Negara akan mengusut tuntas, memprosesnya dengan adil, dan menghukumi dengan tegas yakni hukuman mati, atau minimal dipotong kaki tangannya secara bersilang.

Sanksi tersebut diberikan secara tegas oleh negara, karena dalam IsIam sanksi memiliki dua fungsi; pertama jawabir (penebus dosa), kedua zawajir (memberi efek jera bagi pelaku, dan agar yang lain tidak mengikuti).

Sehingga dengan begitu aksi begal dan kejahatan lainnya bisa diminimalisir bahkan dihilangkan.

Wallahu a’lam bishshiwab.

Oleh : Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *