Opini  

Ketika Paket C Lebih Seksi Daripada Sekolah Biasa

Catatan pendidikan tentang sekolah yang kehilangan daya pikat

OPINI – Ada yang menarik dalam dunia pendidikan kita hari ini. Paket C, yang selama bertahun-tahun ditempatkan sebagai jalur alternatif bagi mereka yang tidak menyelesaikan pendidikan formal, perlahan-lahan justru tampak lebih seksi daripada sekolah biasa.

Sekolah biasa masuk Senin sampai Jumat, bahkan ada yang menuntut kehadiran sejak pagi dengan seragam lengkap, rambut rapi, sepatu hitam, dan sederet aturan yang kadang terasa lebih penting daripada isi kepala. Sementara itu, Paket C menawarkan sesuatu yang bagi sebagian anak muda terasa seperti kemewahan: sekolah Sabtu dan Minggu.

Bayangkan, hari kerja bisa digunakan untuk bekerja, berkesenian, membantu orang tua, mengembangkan usaha, atau sekadar mencari cara agar hidup tidak sepenuhnya dikendalikan oleh bel sekolah. Pendidikan tetap berjalan, ijazah tetap menjadi tujuan, tetapi waktu terasa lebih manusiawi.

Dan yang lebih seksi lagi: bisa gondrong.

Rambut panjang, yang di sebagian sekolah reguler masih diperlakukan seperti ancaman terhadap peradaban, di luar pagar sekolah justru bisa menjadi ekspresi diri. Seolah-olah kecerdasan seseorang memiliki hubungan langsung dengan panjang rambutnya. Makin pendek rambut, makin tinggi moralitas. Makin panjang rambut, makin dekat dengan kehancuran bangsa.

Padahal, sejarah pemikiran manusia tidak pernah mencatat bahwa gunting rambut merupakan alat ukur kecerdasan.

Tentu, rambut gondrong bukan ukuran kebebasan yang sesungguhnya. Demikian pula sekolah pada akhir pekan bukan jaminan pendidikan yang lebih baik. Paket C memiliki standar, proses pembelajaran, dan tantangannya sendiri. Namun, ketika jalur pendidikan alternatif mulai terasa lebih menarik bagi sebagian anak muda, kita layak mengajukan pertanyaan: *sebenarnya, apa yang sedang ditawarkan sekolah reguler selain kewajiban untuk hadir?*

Apakah sekolah masih menjadi ruang untuk tumbuh, atau telah berubah menjadi tempat untuk belajar mematuhi?

Pertanyaan ini bukan tuduhan kepada semua sekolah. Banyak guru bekerja dengan penuh pengabdian, berjuang di tengah keterbatasan, dan berusaha menjadikan kelas sebagai ruang penemuan. Masalahnya mungkin bukan pada guru secara individual, melainkan pada sistem yang terlalu sering menyamakan pendidikan dengan ketertiban administratif.

Anak datang tepat waktu, dianggap disiplin. Anak memakai seragam sesuai ketentuan, dianggap berkarakter. Anak mematuhi semua perintah, dianggap baik. Namun, ketika anak bertanya terlalu banyak, memiliki cara berpikir yang berbeda, atau mengekspresikan dirinya dengan cara yang tidak lazim, sekolah kadang mendadak kehilangan kesabaran.

Kita ingin menghasilkan manusia kreatif melalui sistem yang sering kali tidak nyaman menghadapi kreativitas.

Kita ingin anak mandiri, tetapi terlalu banyak mengatur pilihan mereka. Kita ingin mereka berpikir kritis, tetapi tidak selalu siap ketika kritik itu diarahkan kepada sekolah. Kita ingin mereka menjadi manusia merdeka, tetapi kemerdekaan itu sering kali baru diberikan setelah mereka lulus.

Agaknya, kita ingin melahirkan burung yang pandai terbang, tetapi selama bertahun-tahun sibuk mengukur panjang sayapnya agar sesuai dengan ukuran sangkar.

Di sinilah Paket C menjadi menarik, bukan karena ia harus dianggap lebih baik daripada sekolah reguler, melainkan karena keberadaannya mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak harus selalu berlangsung dalam satu bentuk, satu jadwal, satu penampilan, dan satu cara hidup.

Ada anak yang harus bekerja. Ada yang memiliki tanggung jawab keluarga. Ada yang tidak cocok dengan ritme sekolah formal. Ada pula yang membutuhkan kesempatan kedua setelah mengalami kegagalan, putus sekolah, atau keadaan hidup yang tidak memberinya pilihan.

Mereka tidak selalu membutuhkan ceramah tentang pentingnya pendidikan. Kadang-kadang mereka hanya membutuhkan sistem yang memberi kesempatan untuk kembali belajar tanpa harus terlebih dahulu menyeragamkan seluruh hidupnya.

Pendidikan seharusnya membuka pintu, bukan mempersulit orang yang ingin masuk kembali.

Tentu, fleksibilitas tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan mutu. Sekolah akhir pekan tetap harus menghadirkan pembelajaran yang serius, guru yang kompeten, proses evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan, dan ijazah yang diperoleh melalui proses yang sah. Kebebasan bukan berarti tanpa tanggung jawab. Rambut boleh panjang, tetapi pikiran jangan dibiarkan pendek.

Begitu pula sebaliknya. Rambut pendek tidak otomatis membuat seseorang berpikiran panjang.

Mungkin sudah waktunya sekolah reguler bercermin. Bukan untuk meniru seluruh model Paket C, melainkan untuk memeriksa kembali apa yang membuat sebagian anak merasa lebih tertarik pada jalur alternatif. Apakah jadwalnya? Apakah suasananya? Apakah ruang kebebasannya? Atau jangan-jangan, yang mereka cari adalah pengalaman belajar yang lebih menghargai kehidupan mereka di luar kelas?

Sebab anak-anak tidak hidup hanya untuk menjadi murid. Mereka juga manusia yang sedang belajar bekerja, mencintai, berkarya, gagal, bangkit, dan memahami dunia. Pendidikan yang baik semestinya berhubungan dengan seluruh kehidupan itu, bukan sekadar dengan daftar hadir dan nilai rapor.

Barangkali, persoalan terbesar sekolah kita bukan karena ada pendidikan alternatif yang semakin menarik. Persoalannya justru ketika pendidikan alternatif mampu menawarkan sesuatu yang terlupakan oleh sekolah utama: kesempatan, keluwesan, dan penghormatan terhadap keberagaman jalan hidup.

Jika Paket C terasa lebih seksi, jangan buru-buru menyalahkan anak muda yang memilihnya. Periksalah sekolah yang kita bangun. Jangan sampai sekolah terlalu sibuk merapikan penampilan, sementara anak-anaknya diam-diam mencari tempat untuk bernapas.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan perlombaan siapa yang paling rapi rambutnya, paling lengkap seragamnya, atau paling lama duduk di dalam kelas.

Pendidikan adalah proses membebaskan manusia dari ketidaktahuan, memperluas kemampuannya berpikir, dan memberinya keberanian untuk menjalani hidup secara bertanggung jawab.

Kalau untuk mencapai tujuan itu seseorang harus belajar pada Sabtu dan Minggu, silakan. Kalau rambutnya gondrong, biarkan saja selama tidak mengganggu hak orang lain. Kalau ia menemukan jalan pulang menuju pendidikan melalui Paket C, bukakan pintunya.

Yang perlu kita khawatirkan bukan anak muda yang rambutnya terlalu panjang.

Yang perlu kita khawatirkan adalah sistem pendidikan yang pikirannya terlalu pendek untuk memahami bahwa manusia tumbuh dengan cara yang berbeda-beda.

Jangan sampai ijazah menjadi bukti bahwa seseorang pernah bersekolah, tetapi bukan bukti bahwa ia pernah diberi ruang untuk berpikir.

Penulis: AB AsmarandanaEditor: Hendra Cahya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *