INILAHTASIK.COM | Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi, meminta pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kabupaten Tasikmalaya dibenahi secara menyeluruh. Profesionalisme pengelola, keterbukaan keuangan, serta kemampuan membaca peluang pasar menjadi sejumlah aspek yang dinilai perlu segera diperkuat.
Dorongan tersebut disampaikan Asep saat menerima audiensi Forum BUMDes Kabupaten Tasikmalaya di Pendopo Baru, Kamis, 5 November 2026.
Dalam pertemuan itu, Asep mengungkapkan bahwa keberadaan BUMDes masih kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kondisi tersebut tidak terlepas dari pengelolaan sejumlah unit usaha yang belum menunjukkan hasil optimal.
Padahal, menurutnya, terdapat BUMDes yang sudah berkembang secara mandiri dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).
“Citra BUMDes saat ini memang masih banyak yang negatif. Tetapi, kita juga harus melihat ada BUMDes yang berhasil mandiri dan sudah bisa menghasilkan PADes. Ini harus menjadi contoh sekaligus bahan pembelajaran bagi BUMDes lainnya,” ujar Asep.
Ia menilai, salah satu persoalan mendasar yang harus segera dibenahi adalah transparansi pengelolaan keuangan. Setiap BUMDes harus memiliki sistem pencatatan dan pelaporan keuangan yang jelas serta dapat diakses publik sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat desa.
Asep bahkan mendorong agar laporan kinerja dan keuangan BUMDes dipublikasikan melalui website desa yang terintegrasi dengan program unggulan pemerintah daerah, yakni Desa Naik Kelas.
“Pengelolaan keuangan harus terbuka, termasuk laporan pemasukan dan penggunaannya. Sekarang bukan zamannya lagi ada informasi yang ditutup-tutupi. Pemerintah daerah saja membuka informasi penerimaan dan penggunaan pajak, sehingga BUMDes juga harus membangun budaya transparansi yang sama,” tegasnya.
Selain pembenahan administrasi, Asep melihat digitalisasi sebagai peluang besar untuk meningkatkan daya saing BUMDes. Pengelola tidak boleh hanya menjalankan usaha secara konvensional, tetapi harus mulai memanfaatkan teknologi digital, termasuk memperluas pemasaran melalui platform e-commerce.
Lebih jauh, ia menginginkan BUMDes menjadi penghubung antara potensi ekonomi masyarakat desa dengan kebutuhan industri dan ekonomi kreatif di Kabupaten Tasikmalaya.
Asep mencontohkan sejumlah pelaku industri lokal, seperti produsen sepatu Zentin dan perajin tas Kania, yang memiliki peluang pasar cukup besar. Namun, tingginya permintaan belum sepenuhnya dapat dipenuhi karena terkendala keterbatasan tenaga kerja terampil dan kapasitas produksi.
Menurutnya, kondisi tersebut justru bisa menjadi peluang bisnis bagi BUMDes melalui pola kemitraan dengan perusahaan lokal.
“BUMDes jangan hanya berpikir bagaimana membuka usaha sendiri. Peluang kemitraan dengan industri juga sangat terbuka. Misalnya, membantu memenuhi kebutuhan produksi melalui sistem makloon atau jasa manufaktur, termasuk menyiapkan modal dan memfasilitasi pelatihan tenaga kerja,” jelas Asep.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pihaknya melalui Dinas Penanaman Modal dan Tenaga Kerja tengah menyiapkan ekosistem pelatihan kerja yang terhubung langsung dengan kebutuhan dunia industri.
Dengan demikian, peningkatan keterampilan masyarakat desa diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi juga membuka akses terhadap kesempatan kerja dan peluang usaha produktif.
Di sisi lain, Asep memastikan pembenahan BUMDes yang selama ini menghadapi persoalan pengelolaan akan menjadi perhatian pemerintah daerah. Penguatan regulasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dinilai penting agar badan usaha milik desa tersebut tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah.
Ia berharap ke depan BUMDes mampu tumbuh sebagai lembaga ekonomi yang sehat, memiliki model bisnis berkelanjutan, serta memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
“Saya titip pesan atas nama pimpinan daerah, persoalan pengelolaan keuangan di desa harus segera diperbaiki. Kita ingin BUMDes dikelola secara profesional, mampu membiayai operasionalnya sendiri, dan benar-benar menjadi kekuatan ekonomi yang membantu masyarakat desa,” pungkasnya.











