Dicanangkan Dedi Mulyadi, Program Poe Ibu Masih Bertahan di Sekolah Ini

Seorang guru SMAN 1 Cigalontang tengah memasukan uang kedalam gentong yang rutin dilakukan setiap pagi sebelum memulai aktivitas mengajar. Selasa (8/9/2026).

INILAHTASIK.COM | Program “Poe Ibu” atau “Sapoe Sarebu” yang sempat digaungkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ternyata masih bertahan di sejumlah sekolah. Salah satunya di SMAN 1 Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya.

Alih-alih sekadar menjadi program sesaat, kebiasaan menyisihkan uang secara rutin justru telah berkembang menjadi budaya berbagi di kalangan guru dan tenaga kependidikan.

Setiap pagi sebelum memulai aktivitas belajar mengajar, para guru di sekolah tersebut menyempatkan diri memasukkan uang ke dalam sebuah gentong kecil yang memang disediakan sebagai wadah sumbangan.

Nominal yang diberikan pun tidak dipatok harus Rp 1.000. Karena sifatnya sukarela, para guru bebas memberikan sesuai kemampuan dan keikhlasan masing-masing.

Kepala SMAN 1 Cigalontang, Ari Wawan Darmawan, mengatakan kebiasaan tersebut masih konsisten dilakukan sejak pertama kali program itu diperkenalkan.

Alhamdulillah, sejak pertama kali dicanangkan Pak Gubernur, sampai sekarang masih berjalan dengan baik. Bahkan sudah menjadi kebiasaan rutin yang kami lakukan bersama rekan-rekan guru di sini,” ujar Ari, kepada wartawan, Selasa 8 September 2026.

Menurutnya, sumbangan yang terkumpul setiap hari jumlahnya memang tidak selalu sama. Ada guru yang memberikan Rp 2.000, Rp 5.000, bahkan hingga Rp 10.000.

Namun, bagi pihak sekolah, besarnya nominal bukanlah hal utama. Nilai yang ingin dibangun justru terletak pada keikhlasan dan konsistensi untuk berbagi.

“Yang terpenting kan keikhlasannya, bukan jumlahnya. Jadi tidak ada paksaan atau target tertentu bagi para guru,” katanya.

Ari menjelaskan, dana yang terkumpul kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan sosial di lingkungan sekolah.

Di antaranya membantu guru, siswa maupun keluarga mereka yang sedang sakit, memberikan bantuan ketika ada warga sekolah yang meninggal dunia, hingga membantu siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan anak yatim piatu.

“Kalau peruntukannya biasanya untuk kebutuhan sosial. Misalnya ada guru atau siswa maupun keluarganya yang sakit, takziah kalau ada yang meninggal, membantu siswa yang kurang mampu atau yatim piatu. Pokoknya untuk kegiatan sosial siswa,” jelasnya.

Dengan demikian, program tersebut tidak hanya menjadi aktivitas mengumpulkan uang, tetapi juga menjadi salah satu cara sekolah membangun kepedulian antar sesama.

Hal senada disampaikan Rudi, salah satu guru SMAN 1 Cigalontang. Ia menilai kebiasaan menyisihkan uang setiap hari telah memberikan makna lebih luas dibanding sekadar menjalankan program “Poe Ibu”.

Menurutnya, rutinitas tersebut secara perlahan membentuk kebiasaan untuk peduli dan membantu orang lain.

“Kalau sudah terbiasa memberi dengan penuh keikhlasan, kami tidak merasa terbebani. Bahkan kalau lupa memberi, rasanya seperti ada yang kurang,” ungkap Rudi.

Ia berharap kebiasaan sederhana tersebut dapat terus dipertahankan. Sebab, menurutnya, kepedulian sosial tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

“Dari hal kecil seperti ini saja kita bisa belajar peduli. Yang penting dilakukan bersama dan dengan ikhlas,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *