INILAHTASIK.COM | Rumah Sakit KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya mencatat capaian penting dalam layanan penanganan stroke. Dua pasien yang mengalami serangan stroke akut berhasil mendapatkan penanganan cepat sehingga kondisi mereka berangsur pulih dan kembali normal dalam waktu kurang dari lima jam.
Keberhasilan tersebut menjadi pengalaman perdana bagi rumah sakit tersebut setelah tersedianya terapi trombolisis, yakni metode pengobatan yang bertujuan melarutkan sumbatan pembuluh darah penyebab stroke.
Dokter Spesialis Saraf RS KHZ Musthafa, dr. Indra Sp.S, menjelaskan bahwa kedua pasien yang ditangani adalah seorang pria berinisial S (74) dan seorang perempuan berinisial N (37). Keduanya datang dengan gejala stroke dan langsung mendapatkan penanganan sesuai prosedur kegawatdaruratan.
“Alhamdulillah, tadi malam ada dua pasien stroke yang langsung kami tangani. Saat ini kondisi keduanya sudah kembali normal. Ini menjadi hasil yang sangat menggembirakan bagi kami,” ujar dr. Indra saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis 18 Juni 2026.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kesiapan Tim Code Stroke yang bekerja cepat sejak pasien tiba di rumah sakit. Tim melakukan serangkaian pemeriksaan dan tindakan medis secara terukur untuk memastikan pasien memenuhi syarat mendapatkan terapi trombolisis.
“Kebetulan pada Rabu siang kami baru menerima obat trombolisis. Obat ini merupakan salah satu terapi utama untuk menangani stroke akibat sumbatan pembuluh darah,” katanya.
Ia menjelaskan, efektivitas terapi trombolisis sangat bergantung pada kecepatan penanganan. Pasien harus mendapatkan pengobatan dalam rentang waktu maksimal 4 jam 30 menit sejak gejala pertama muncul.
“Jika pasien datang dan bisa ditangani dalam periode emas tersebut, peluang keberhasilannya sangat tinggi, bisa mencapai 90 hingga 95 persen untuk kembali normal,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penanganan stroke tidak bisa dilakukan secara individu, melainkan membutuhkan koordinasi lintas profesi di rumah sakit agar setiap tahapan berjalan cepat dan tepat.
“Penggunaan obat trombolisis memiliki protokol yang ketat. Karena itu dibutuhkan kecepatan, ketepatan, dan akurasi dalam setiap langkah penanganan,” tegasnya.
Meski kondisi kedua pasien sudah membaik, tim medis masih melakukan pemantauan intensif untuk memastikan tidak terjadi komplikasi pasca tindakan. Pengawasan dilakukan secara ketat selama 24 jam pertama.
“Pada dua jam pertama pasien dipantau setiap 15 menit, kemudian enam jam berikutnya setiap 30 menit, dan selanjutnya setiap satu jam sekali hingga kondisi benar-benar stabil,” jelas Indra.
Sementara itu, Direktur RS KHZ Musthafa, dr. Hj. Eli Hendalia MH.Kes, mengatakan kehadiran obat trombolisis merupakan bagian dari upaya rumah sakit meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya bagi penderita stroke di Kabupaten Tasikmalaya.
“Kami melihat angka kasus stroke di Kabupaten Tasikmalaya masih cukup tinggi. Berdasarkan data yang kami miliki, dalam satu tahun jumlah pasien stroke yang datang untuk mendapatkan pelayanan mencapai sekitar seribu orang,” kata Eli.
Menurutnya, ketersediaan terapi trombolisis di RS KHZ Musthafa diharapkan dapat memperbesar peluang kesembuhan pasien serta mengurangi risiko kecacatan akibat stroke yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama penurunan kualitas hidup masyarakat.
“Dengan adanya terapi ini, kami berharap semakin banyak pasien stroke yang bisa tertolong dan mendapatkan kesempatan untuk pulih lebih cepat,” pungkasnya.











