INILAHTASIK.COM | Forum Komunikasi (FK) Tagana Kabupaten Tasikmalaya mulai memperluas kapasitas anggotanya tidak hanya dalam penanganan kebencanaan, tetapi juga pada isu lingkungan dan konservasi satwa liar.
Langkah tersebut dilakukan dengan mengirimkan satu anggota untuk mengikuti Pelatihan Mitra Lokal Java-Wide Leopard Survey (JWLS) yang berlangsung pada 15–17 September 2026 di Villa Bukit Pinus, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Pelatihan ini menjadi ruang pembekalan bagi peserta untuk memahami teknik pemantauan sekaligus pendataan keberadaan satwa liar, khususnya macan tutul Jawa yang merupakan salah satu satwa penting dalam ekosistem hutan di Pulau Jawa.
Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan keterlibatan Tagana dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kemampuan relawan agar semakin siap menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
“Tagana tidak hanya berbicara tentang kebencanaan. Lingkungan dan kelestarian ekosistem juga berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dan potensi risiko bencana,” kata Jembar.
Menurut dia, pengetahuan yang diperoleh anggota melalui pelatihan JWLS diharapkan dapat diterapkan ketika menjalankan tugas di lapangan, terutama dalam kegiatan yang bersinggungan dengan lingkungan dan kawasan habitat satwa liar.
“Kami berharap anggota yang mengikuti pelatihan bisa membawa pengetahuan tersebut ke Tasikmalaya. Minimal, mereka memiliki pemahaman bagaimana melakukan pemantauan dan pelaporan ketika menemukan indikasi keberadaan satwa liar di lapangan,” ujarnya.
Jembar menambahkan, peningkatan kompetensi anggota menjadi penting karena relawan Tagana kerap berada di tengah masyarakat dan wilayah yang memiliki karakter lingkungan beragam.
“Relawan harus terus belajar. Tidak hanya soal evakuasi dan penanganan bencana, tetapi juga memahami lingkungan, konservasi, dan bagaimana menjaga keseimbangan ekosistem,” katanya.
Ia menilai keterlibatan dalam JWLS juga membuka peluang bagi FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya untuk membangun jejaring dengan berbagai pihak yang bergerak di bidang lingkungan dan konservasi.
Dengan tambahan pengetahuan tersebut, Jembar berharap anggotanya dapat memiliki perspektif yang lebih luas dalam menjalankan tugas kemanusiaan, termasuk ikut mendukung upaya perlindungan keanekaragaman hayati di Jawa Barat.
“Pada akhirnya, menjaga lingkungan juga bagian dari upaya menjaga masyarakat. Karena ketika ekosistem terjaga, potensi berbagai persoalan lingkungan yang berdampak kepada manusia juga bisa ditekan,” pungkasnya.











