INILAHTASIK.COM | Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Tasikmalaya mengingatkan pelajar agar mewaspadai tawaran bekerja di luar negeri dengan iming-iming gaji tinggi dan proses keberangkatan yang cepat.
Peringatan tersebut disampaikan dalam kegiatan Immigration Goes to School yang digelar di aula SMK Plus YSB Suryalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 02 September 2026.
Kegiatan bertema “Go Abroad Safely: Kenali Paspor dan Waspada TPPO” itu diikuti puluhan siswa. Juga, turut hadir Kepala SMK YSB Suryalaya, Wakil Kepala Sekolah, Kepala kantor imigrasi, serta Kepala seksi teknologi informasi dan komunikasi keimigrasian.
Edukasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman pelajar mengenai dokumen perjalanan sekaligus risiko Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Analis Keimigrasian Pertama Kantor Imigrasi Tasikmalaya, Didan Farrelfy Alvriedho Santosa, mengatakan pelajar dan anak muda menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat pemahaman mengenai modus TPPO.
Menurut dia, sindikat perdagangan orang dapat memanfaatkan media sosial untuk menawarkan pekerjaan di luar negeri.
“Modus yang sering digunakan adalah menawarkan pekerjaan dengan gaji tinggi dan proses yang instan. Ini yang harus diwaspadai pelajar,” ujar Didan.
Ia meminta calon pekerja memastikan legalitas agen penyalur tenaga kerja sebelum menerima tawaran pekerjaan di luar negeri.
Calon pekerja juga perlu memastikan informasi mengenai perusahaan, jenis pekerjaan, negara tujuan, serta dokumen keberangkatan.
“Jangan hanya tergiur gaji besar. Pastikan pekerjaan dan agen penyalurnya legal sebelum memutuskan berangkat,” katanya.
Selain materi mengenai TPPO, siswa mendapatkan penjelasan mengenai paspor Republik Indonesia.
Kepala Subseksi Verifikasi dan Adjudikasi Dokumen Perjalanan Kantor Imigrasi Tasikmalaya, Nugraha Edison Panjaitan, menjelaskan fungsi paspor sebagai dokumen identitas dalam perjalanan ke luar negeri.
Materi yang diberikan mencakup persyaratan pembuatan paspor baru dan penggantian paspor, prosedur E-Paspor, serta penggunaan aplikasi m-Paspor.
“Paspor merupakan dokumen negara yang harus dijaga. Jangan sampai rusak atau hilang ketika digunakan di luar negeri,” kata Nugraha.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Tasikmalaya, Indra Bangsawan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan literasi keimigrasian kepada pelajar sejak dini.
Menurut Indra, siswa SMK memiliki peluang untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan ke luar negeri setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kami ingin pelajar memahami prosedur keimigrasian sekaligus mengetahui risiko yang bisa mereka hadapi ketika hendak pergi ke luar negeri,” ujar Indra.
Kepala SMK Plus YSB Suryalaya, Arief Syariful Alam, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai informasi mengenai migrasi aman penting bagi siswa yang memiliki rencana bekerja atau melanjutkan studi di luar negeri.
Antusiasme siswa terlihat saat sesi tanya jawab. Mereka menanyakan berbagai hal, mulai dari pembuatan paspor dan penggunaan m-Paspor hingga cara mengenali tawaran kerja yang mencurigakan di media sosial.
Melalui kegiatan tersebut, Kantor Imigrasi Tasikmalaya berharap pelajar dapat lebih berhati-hati sebelum menerima tawaran bekerja di luar negeri.
Imigrasi mengingatkan agar keberangkatan ke luar negeri dilakukan melalui prosedur resmi sehingga calon pekerja dapat terlindungi dari risiko penipuan dan TPPO.











