INILAHTASIK.COM | Arena basement parkir Gedung DPRD Singaparna berubah menjadi panggung adu ketangguhan, Sabtu 2 Mei 2026. Ratusan atlet dari berbagai camp muaythai se-Priangan Timur turun gelanggang dalam ajang Pasundan Muaythai Championship 2026, membawa semangat kompetisi yang membara.
Sekitar 140 petarung ambil bagian dalam kejuaraan yang untuk pertama kalinya digelar di Kabupaten Tasikmalaya tersebut. Total 67 partai pertandingan tersaji, menghadirkan duel dari berbagai kelas, mulai anak-anak hingga level elite.
Ketua Pengcab Muaythai Kabupaten Tasikmalaya, Adi Septian Nugraha, menegaskan bahwa ajang ini tidak sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi wadah pembinaan atlet sejak usia dini.
“Diikuti sekitar 140 atlet dengan 67 pertandingan. Ini bukan hanya soal menang atau kalah, tapi juga sebagai ajang silaturahmi antar club dan pembinaan atlet masa depan,” ujar Adi.
Ia menambahkan, muaythai dinilai mampu membentuk karakter, mental, dan kedisiplinan, terutama bagi peserta usia muda yang mulai dikenalkan dengan olahraga bela diri tersebut.
Beragam kelas dipertandingkan, mulai dari pemula anak-anak, beginner, amatir, elite, hingga kelas amatir profesional (ampro). Sejumlah laga bergengsi seperti Four Men Tournament dan Four Women Tournament menjadi daya tarik utama, menyedot perhatian penonton yang memadati arena.
Sorotan tak hanya tertuju pada petarung senior. Penampilan atlet cilik juga mencuri perhatian, salah satunya Arkan, siswa kelas dua sekolah dasar dari Muaythai KCC Singaparna. Meski masih belia, ia tampil percaya diri dan berhasil meraih medali.
“Saya ikut supaya mental saya kuat dan senang saja. Nggak sakit kok karena sudah latihan. Alhamdulillah bisa juara,” kata Arkan dengan wajah ceria.
Dukungan keluarga menjadi faktor penting di balik keberanian Arkan. Sang ayah, Dede, mengaku sengaja mengarahkan anaknya ke olahraga bela diri untuk membentuk karakter sejak dini.
“Kami ingin anak belajar sportivitas dan disiplin. Fisiknya juga jadi lebih kuat. Bahkan saat kurang sehat pun dia tetap ingin tanding karena sudah suka muaythai,” ujar Dede.
Menurutnya, muaythai bukan sekadar olahraga fisik, tetapi juga sarana membangun mental, keberanian, serta rasa hormat terhadap lawan.
Sementara itu, Adi kembali menegaskan bahwa kejuaraan ini merupakan bagian dari program pembinaan jangka panjang. Ia berharap dari ajang ini lahir atlet-atlet potensial yang mampu bersaing di tingkat provinsi hingga nasional.
“Kami ingin ada regenerasi atlet yang berjenjang, dari usia dini sampai elite. Pembinaan harus terus berjalan agar muaythai Tasikmalaya semakin berkembang,” ucapnya.
Sepanjang pertandingan, sorak sorai penonton menggema di arena. Setiap pukulan, tendangan, hingga teknik kuncian disambut antusias.
Bagi para peserta, kejuaraan ini bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga pengalaman bertanding dan memperluas jejaring antar camp.











