Opini  

Menjemput Kebahagiaan Hakiki

INILAHTASIK.COM | Dunia seringkali menipu kita dengan perayaan yang semu. Kita sering menyangka bahwa hari raya hanyalah tentang baju baru atau jamuan yang mewah. Namun bagi jiwa yang merindu Tuhan, hari raya adalah setiap detik di mana ruh kita merasa aman dalam pelukan Ridha-Nya.

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: لِلْمُؤْمِنِ خَمْسَةُ أَعْيَادٍ

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Bagi seorang mukmin, ada lima hari raya…”

Berikut adalah lima momentum kemenangan sejati bagi seorang hamba yang sedang menempuh perjalanan pulang:

1. Hari Tanpa Noda Dosa

الْأَوَّلُ: كُلُّ يَوْمٍ يَمُرُّ عَلَى الْمُؤْمِنِ وَلَا يُكْتَبُ عَلَيْهِ ذَنْبٌ

فَهُوَ يَوْمُ عيد

Pertama: Setiap hari yang dilalui oleh seorang mukmin tanpa dituliskan satu dosa pun baginya, maka hari itu adalah hari raya.

Bayangkan sebuah hari di mana lisan kita terjaga dari menyakiti, mata kita tunduk dari yang terlarang, dan hati kita bersih dari benci.

Itulah hari raya yang paling dekat. Saat bantal tempat kita merebahkan kepala di malam hari tidak basah oleh penyesalan, melainkan tenang karena penjagaan Allah atas diri kita.

Kebahagiaan sejati adalah saat kita mampu menaklukkan ego demi cinta kepada-Nya.

2. Indahnya Kepulangan yang Husnul Khatimah

وَالثَّانِي: الْيَوْمُ الَّذِي يَخْرُجُ فِيهِ مِنَ الدُّنْيَا بِالْإِيمَانِ وَالشَّهَادَةِ

Kedua: Hari di mana ia keluar meninggalkan dunia dengan membawa iman dan persaksian (syahadat).

Kematian bukanlah akhir bagi seorang mukmin, melainkan pintu pertemuan yang telah lama dinanti. Hari raya ini adalah saat ruh kita dilepaskan dari penatnya dunia dengan lisan yang basah menyebut nama-Nya. Di saat setan mencoba mencuri iman kita di detik terakhir, Allah memeluk kita dengan keteguhan. Itulah hari kemenangan, saat sang pengembara akhirnya sampai ke ambang pintu rumah kekasihnya.

3. Keamanan di Atas Shirath

وَالثَّالِثُ : الْيَوْمُ الَّذِي يُجَاوِزُ فِيهِ الصَّرَاطَ وَيَأْمَنُ مِنْ أَهْوَالِ الْقِيَامَةِ

Ketiga: Hari di mana ia berhasil melintasi jembatan Shirath dan merasa aman dari kengerian hari kiamat.

Betapa bergetarnya hati membayangkan titian yang halus dan tajam itu. Namun, di hari raya ketiga ini, ketakutan itu sirna. Allah mengganti rasa cemas kita di dunia dengan rasa aman yang luar biasa. Saat orang lain jatuh dalam keputusasaan, kita melesat bagai kilat menuju keselamatan, terbebas dari tuntutan makhluk dan pedihnya siksa. Itulah hari di mana janji Allah benar-benar terbukti nyata.

4. Langkah Pertama di Surga

وَالرَّابِعُ: الْيَوْمُ الَّذِي يَدْخُلُ فِيهِ الْجَنَّةَ وَيَأْمَنُ مِنَ الْجَحِيمِ

Keempat: Hari di mana ia memasuki surga dan merasa aman dari siksa neraka.

Ingatlah kembali, lelahnya kita dalam sujud yang panjang dan sabarnya kita dalam ujian yang perih. Hari raya keempat adalah saat kaki kita pertama kali menyentuh tanah surga. Segala penat duniawi menguap seketika. “Selamat datang di rumah,” seolah alam semesta menyapa. Tidak ada lagi perpisahan, tidak ada lagi rasa sakit, dan tidak ada lagi rasa takut akan kehilangan.

5. Puncak Rindu: Memandang Wajah Tuhan

وَالْخَامِسُ : الْيَوْمُ الَّذِي يَنْظُرُ فِيهِ إِلَى رَبِّهِ

Kelima: Hari di mana ia dapat memandang Tuhannya.

Inilah hari raya di atas segala hari raya. Semua keindahan surga seolah meredup saat hijab tersingkap. Kita memandang-Nya, Sang Pencipta yang selama ini kita sembah dalam ghaib, yang kita sebut nama-Nya dalam isak tangis di sepertiga malam. Tatapan itu adalah penawar segala duka selama hidup di dunia. Di saat itulah, kita menyadari bahwa seluruh perjalanan panjang kita hanya untuk satu tujuan, pulang dan menatap wajah-Nya.

Referensi: Kitab Durratun Nashihin halaman 263

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *