INILAHTASIK.COM | Dulu, saat memilih program studi ini, saya berpikir, “Oh, menjadi guru SD ya? Pasti mudah. Materinya masih dasar, anak-anaknya polos dan belum tahu banyak hal, cukup mengajarkan membaca dan menghitung saja.”
Namun, setelah menempuh 7 semester perkuliahan dan mengikuti Program Penguatan Profesi Kependidikan (P3K) di semester 5, saya telah melewati lebih dari 50 mata kuliah. Di antaranya: landasan pendidikan, konsep dasar setiap mata pelajaran, microteaching, psikologi dan bimbingan anak, pedagogik, pendidikan inklusi, evaluasi pembelajaran, dan lainnya.
Pengalaman ini membuka mata saya dan menjadi pembelajaran berharga sebagai calon guru.
Faktanya, menjadi guru bukan pekerjaan mudah. Ada banyak persiapan sebelum mengajar, dan saat praktik langsung pun, kita harus mempertimbangkan berbagai hal yaitu kesiapan anak, kemampuan awalnya, minatnya, gaya belajarnya, serta karakteristiknya yang beragam. Pengelolaan kelas juga tak cukup dengan teori semata tetapi juga kita harus mahir mempraktikkannya.
Ketika memilih jadi pendidik berarti memilih jadi pembelajar seumur hidup. Seorang dosen pernah bilang, “Kegagalan pendidik adalah saat mereka berhenti belajar.”
Perlu ditekankan juga bahwa anak anak bukanlah gelas kosong yang harus kita isi tapi semangat yang harus kita siram dan mendidik tidak tentang membuat semua anak menjadi juara kelas tetapi memastikan bahwa mereka berharga dan mempunyai harapan dengan kemampuan dan potensi yang mereka punya.
Catatan kecil yang menjadi pengingat untukku bahwa gelar sarjana yang sebentar lagi akan disandang bukan sekedar tiket untuk bekerja tetapi tanggung jawab yang besar ketika memilih menjadi pendidik adalah tentang pengabdian dan bagaimana kita dapat meninggalkan jejak kebaikan di hati anak-anak yang akan memimpin masa depan.

Oleh: Putri Widiyawati
Mahasiswa UPI Kampus Tasikmalaya – Prodi PGSD
Staf Komisi Kepengawasan LINTAR











