INILAHTASIK.COM | Di era digital yang serba cepat ini, kata “literasi” sering kali dianggap sebatas rutinitas membaca buku pelajaran atau sekadar menyelesaikan tugas sekolah.
Padahal, jika kita gali lebih dalam, literasi adalah fondasi paling awal yang menentukan seberapa jauh seorang remaja bisa melangkah dan berprestasi.
Banyak yang bertanya, bagaimana seorang remaja bisa lahir sebagai sosok yang berprestasi dan berdampak bagi lingkungannya? Jawabannya sederhana: semuanya dimulai dari rasa ingin tahu yang dipelihara melalui literasi.
Literasi bukan hanya tentang kemampuan mengeja kata, melainkan kemampuan memahami, menganalisis, dan mengolah informasi menjadi sebuah gagasan nyata. Remaja yang melek literasi akan memiliki pola pikir kritis dan wawasan yang luas.
Ketika mereka terbiasa membaca situasi, memahami fenomena di sekitar, dan haus akan ilmu pengetahuan, dari sanalah potensi terbaik mereka mulai terasah.
Baik itu prestasi di bidang akademik, karya tulis, teknologi, hingga aksi sosial di masyarakat, semuanya bermula dari benih literasi yang dipupuk dengan konsisten.
Kabupaten Tasikmalaya tidak pernah kekurangan potensi remaja berbakat. Namun, potensi tersebut membutuhkan wadah dan bahan bakar yang tepat yaitu budaya literasi yang kuat.
Ketika seorang remaja mulai menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian dari gaya hidup, mereka tidak hanya sedang memperkaya diri sendiri, tetapi juga sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pemuda yang siap bersaing dan memberi solusi bagi daerahnya.
Menjadi remaja berprestasi bukanlah tentang bakat instan, melainkan tentang keberanian untuk terus belajar. Mari jadikan literasi sebagai pijakan awal untuk melahirkan karya-karya hebat.
Karena dari mata yang tekun membaca dan jemari yang aktif menulis, akan lahir generasi muda Tasikmalaya yang cerdas, berkarakter, dan siap menginspirasi dunia.

Asep Muhammad Fauzi – Kecamatan Pancatengah
Duta Baca Kabupaten Tasikmalaya











