Opini  

Ketika Rumah Kebudayaan Kehilangan Wajahnya

INILAHTASIK.COM – Sebuah kota sesungguhnya tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung pemerintahan, atau pusat-pusat perdagangan. Sebuah kota dikenang karena ingatannya. Dan ingatan itu hidup di ruang-ruang kebudayaan.

Hari ini Festival Pamali diselenggarakan di Gedung Kesenian Tasikmalaya. Para seniman bekerja dengan penuh dedikasi untuk menghadirkan pertunjukan terbaik.

Tata artistik disusun secara cermat, pencahayaan ditata dengan presisi, dan panggung dihidupkan oleh imajinasi. Namun di balik seluruh upaya tersebut, tersimpan kenyataan yang sulit diabaikan.

Gedung itu sendiri seolah sedang berbicara.
Cat yang mengelupas, atap yang bocor, dinding yang menua, serta halaman yang kehilangan wibawa bukan sekadar persoalan fisik. Ia merupakan bahasa diam yang merefleksikan bagaimana kebudayaan ditempatkan dalam prioritas pembangunan.

Bangunan selalu menyimpan ideologi. Cara sebuah masyarakat merawat ruang kebudayaannya mencerminkan sejauh mana ia menghormati ingatan kolektifnya. Karena itu, ketika rumah kesenian tampak renta, yang sesungguhnya dipertanyakan bukan sekadar usia gedungnya, melainkan tingkat kesadaran kita terhadap makna kebudayaan itu sendiri.

Ironisnya, di dalam gedung yang menua tersebut, para seniman justru menghadirkan kehidupan. Mereka menciptakan harapan di tengah ruang yang nyaris kehilangan daya hidup. Mereka menjaga martabat seni melalui kerja keras, kreativitas, dan ketulusan. Pertunjukan berlangsung, tepuk tangan terdengar, namun bangunan itu tetap menyisakan pertanyaan yang menggema setelah lampu panggung dipadamkan.

Apa arti sebuah festival jika rumah tempat festival itu berlangsung justru membutuhkan penyelamatan?
Kehadiran para pemangku kebijakan, termasuk anggota DPR RI Ferdiansyah dan Wakil Wali Kota Tasikmalaya, semestinya dimaknai lebih dari sekadar seremoni.

Momentum kebudayaan seharusnya tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi juga melahirkan kesadaran bahwa gedung kesenian bukanlah beban anggaran, melainkan investasi peradaban.

Sebab kota yang besar bukanlah kota dengan gedung-gedung tertinggi, melainkan kota yang mampu merawat ruang tempat warganya berpikir, berimajinasi, dan menciptakan makna.

Gedung kesenian bukan sekadar bangunan. Ia adalah wajah sebuah peradaban. Dan wajah yang dibiarkan retak terlalu lama akan menjadi kesaksian sejarah tentang apa yang pernah kita abaikan.

Barangkali yang paling memprihatinkan bukanlah cat yang mengelupas atau atap yang bocor. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kita mulai menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar.

Sebab setiap peradaban tidak runtuh ketika temboknya retak, melainkan ketika masyarakatnya berhenti menganggap keretakan itu sebagai persoalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *