Opini  

Sebelum Menafsirkan Dunia, Barangkali Kita Perlu Membaca Diri

INILAHTASIK.COM – Kita hidup di zaman ketika manusia begitu sibuk menafsirkan dunia. Kita membaca berita, menilai keadaan, mengomentari kehidupan orang lain, bahkan membentuk kesimpulan hanya dari apa yang tampak di hadapan mata. Namun, di tengah begitu banyak hal yang kita baca, barangkali ada satu hal yang sering luput: diri kita sendiri.

Socrates menempatkan pengenalan diri sebagai bagian penting dari kehidupan yang bijaksana. Sebelum mencari jawaban tentang dunia, manusia perlu berani mengajukan pertanyaan ke dalam dirinya sendiri.

Sebab, kita tidak pernah benar-benar melihat dunia tanpa sudut pandang. Kita menafsirkannya melalui pengalaman, pengetahuan, nilai, lingkungan, bahkan luka yang kita bawa.

Karena itu, memahami diri menjadi langkah penting agar apa yang kita lihat dan nilai tentang dunia tidak semata-mata lahir dari prasangka.

Di sinilah literasi menemukan maknanya yang lebih dalam. Literasi bukan hanya kemampuan membaca kata, tetapi kemampuan memahami makna.

Kita membaca buku untuk mengenal gagasan, membaca sejarah untuk memahami perjalanan manusia, dan membaca zaman untuk melihat perubahan. Tetapi pada akhirnya, kita juga perlu membaca diri untuk memahami siapa kita di tengah semua pengetahuan yang kita terima.

Hari ini, persoalan kita bukan lagi kekurangan informasi, melainkan bagaimana tetap mampu berpikir ketika begitu banyak suara berusaha menentukan apa yang harus kita percaya.

Tidak semua yang kita baca harus langsung dipercaya dan tidak semua yang ramai dibicarakan harus kita ikuti. Karena itu, orang yang literat bukan sekadar orang yang banyak membaca, tetapi orang yang mampu mempertanyakan, memahami, menyaring, merefleksikan, dan mengambil sikap dengan kesadaran.

Lebih jauh, kemampuan membaca diri juga membantu kita memahami orang lain. Ketika kita menyadari bahwa setiap manusia memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda, kita akan lebih berhati-hati dalam memberikan penilaian.

Kita belajar bahwa memahami tidak selalu berarti menyetujui, dan berbeda pendapat tidak selalu berarti harus bermusuhan. Dari sana, literasi tidak hanya membentuk manusia yang kritis, tetapi juga manusia yang lebih terbuka, empatik, dan bijaksana dalam menghadapi perbedaan.

Sebab semakin dalam seseorang mengenal dirinya, semakin ia memahami bahwa tidak semua hal harus dilihat hanya dari sudut pandangnya sendiri.

Sebab pengetahuan tanpa refleksi hanya akan menjadi kumpulan informasi. Sebaliknya, pengetahuan yang direnungkan dapat berubah menjadi kebijaksanaan.

Sebuah buku tidak selalu mengubah hidup kita karena apa yang tertulis di dalamnya, tetapi karena ia membuat kita melihat diri dan dunia dengan cara yang berbeda.

Barangkali, tujuan terdalam dari literasi bukanlah membuat manusia mampu menafsirkan segala sesuatu di luar dirinya, melainkan memberi keberanian untuk bertanya ke dalam: Siapa aku? Apa yang sebenarnya aku yakini?

Mengapa aku mempercayainya? Dan untuk apa pengetahuan yang telah aku miliki? Pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang menambah apa yang kita tahu, tetapi juga tentang memahami bagaimana pengetahuan itu membentuk cara kita berpikir dan bersikap.

Sebelum menafsirkan dunia, barangkali kita perlu membaca diri. Karena dunia yang kita pahami sering kali merupakan cerminan dari cara kita memahami diri sendiri.

Intan Diana Nurawaliyah- Kecamatan Cineam
Duta Baca Kabupaten Tasikmalaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *