Opini  

Cinta Hakiki kepada Rosulullah, Mengikuti Jalan Risalahnya

INILAHTASIK.COM – Cinta merupakan salah satu fitrah yang Allah tanamkan dalam hati setiap manusia. Namun, nilai cinta dalam setiap individu memiliki kadar yang berbeda. Ada yang hanya berhenti pada sebatas perasaan, ada yang melahirkan pengorbanan, ketaatan, dan keteladanan. Dan cinta kepada baginda Rosulullah saw, adalah bentuk cinta yang paling mulia. Sebab, beliau manusia pilihan Allah yang diutus membawa risalahNya ke tengah-tengah umat manusia.

Akan tetapi, perlu kita ketahui mencintai Rasulullah saw. bukan sekadar memperbanyak ucapan shalawat atau sebatas peringatan seremonial saja. Seperti fakta hari ini, disetiap tahun di bulan kelahiran Rosulullah saw. umat Islam memperingatinya sebagai bentuk cinta mereka kepada Rosulullah saw. dengan berbagai bentuk kegiatan. Ada yang menggelar sholawat bersama, berbagai perlombaan IsIami, dan mengundang penceramah-penceramah terkenal.

Cinta hakiki kepada Rosulullah bukan hanya menjadikan ia teladan dalam ibadah dan akhlak. Tapi, perjalanan hidup beliau harus kita teladani dalam kehidupan, bukan sekedar dikenang.

Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (TQS. Ali Imran: 31).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya membutuhkan bukti bukan janji. Bentuk bukti cinta suci nan hakiki itu ialah dengan ittiba’ (mengikuti) petunjuk Rasulullah saw. dalam menjalani kehidupan.

Keteladanan beliau dalam keteguhan berdakwah selama 23 tahun dalam menyampaikan risalahNya, Islam rahmatan lil ‘alamiin, tak pernah goyah oleh tawaran harta, wanita, dan jabatan atau kekuasaan. Selain itu, berbagai rintangan dakwah berupa caci maki, boikot, pengusiran, bahkan penyiksaan tak menyurutkan semangat beliau dalam menyebarkan IsIam ke seluruh penjuru dunia.

Selain sebagai seorang Nabi dan Rosul, beliau juga seorang pemimpin negara yang menerapkan IsIam secara keseluruhan pertama di Madinah. Setelah beliau wafat kepemimpinan digantikan oleh para sahabat diantaranya: Abu Bakar as Sidik, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Kemudian setelah para sahabat meninggal, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh kekhilafan. Selama sistem IsIam diterapkan umat hidup sejahtera. Sebab, negara benar-benar menjalankan fungsinya sebagai raa’in (pengurus umat). Syariat IsIam dijalankan secara keseluruhan diseluruh aspek kehidupan.

Namun sejak kekhilafan terakhir yakni Utsmaniyah goyah dan akhirnya hancur di tahun 1924, umat mulai meninggalkan IsIam dalam kehidupan. Sekulerisme menjadikan Islam hanya dipakai dalam ranah ibadah saja, sehingga kondisi umat berantakan dan rusak. Dan itu dirasakan hingga sekarang. Kemiskinan dimana-mana, kekerasan, pembunuhan, korupsi, dan kemaksiatan lainnya.

Oleh karena itu, momentum Maulid seharusnya mengajak umat untuk mencintai Rasulullah bukan sekedar kata tapi menjalankan risalah yang beliau bawa. Islam bukan hanya sekumpulan ritual ibadah, tetapi merupakan petunjuk kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (habluminallah), dirinya sendiri (habluminnafsi), dan sesama manusia (habluminannas).

Maka dari itu mencintai Rasulullah bukan sekadar mengenang beliau, tetapi berusaha hidup sebagaimana yang beliau ajarkan dan mendakwahkan IsIam kaffah (menyeluruh) sebagai solusi seluruh problematika kehidupan ke seluruh penjuru dunia.

Karena cinta yang hakiki pada Rasulullah adalah cinta yang melahirkan ketaatan dan semakin mendekatkan kita dengan Allah Swt.

Wallahua’lam.

Oleh: Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *